Sebuah catatan
oleh
Novinda Frandiani Mananangkot
05.00 akhirnya kami sampai di
Bandara Sam Ratulangi Manado. Aku menunggu ke dua temanku yang akan pergi
bersamaku (Tirsa Moningka & Decky Mangowal). Tak lama aku menunggu akhirnya
mereka datang dan kami pun segera masuk untuk check in dan menunggu waktu
keberangkatan kami. 06.45 Kami berangkat dengan Lion Air JT 741 dengan tujuan
Denpasar dan aku mendapatkan tempat duduk nomor 08E. Tak sabar rasanya aku
ingin melihat tanah kelahiranku lagi yang telah begitu lama aku tinggalkan.
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenakku sampai membuatku tidak bisa tidur
di pesawat. Aku sangat merindukan keluarga besarku di sana. Apakah mereka
baik-baik saja ? Apakah [1]Embah dan [2]pekak masih selalu bertengkar ? Apakah
aku bisa bertahan ? 10.35 Akhirnya aku tiba di Bandara Ngurah Rai Denpasar,
Bali. Hatiku sangat senang karena aku bisa melihat senyum Pekakku ketika aku
turun dari pesawat. Rasanya baru kemarin aku berada dalam gendongannya. Dia
memelukku dengan erat dan menangis. Aku hanya bisa diam dalam pelukkannya.
Tapi, aku tak melihat sosok embahku di sana untuk menjemputkku. Akhirnya aku
menemukan jawaban atas pertanyaanku di pesawat,Embah dan Pekak tidak berada
dalam suasana yang baik. Aku tahu apa penyebabnya mungkin karena apa yang
dipegang oleh pekak sampai sekarang yang sampai saat ini tak bisa ia lepaskan.
Mungkin itu yang membuat kehidupan keluarga kami sedikit tidak harmonis dan
hidup terpisah. Sejenak aku ingin melupakan kesedihanku ini, karena aku datang
bukan untuk menangis lagi tapi untuk tersenyum.
Segera kami menuju ke rumah kakak
Embahku tepatnya di perumahan dosen di belakang kampus Universitas Udayana di [3]Renon untuk bertemu dengan
Embahku,karena memang disanalah di rumah kakaknya. Dia langsung memelukku dan
menangis ketika dia melihatku. Aku tahu betapa dia sangat merindukanku. Seperti
biasa Embah dan Pekakku bertengkar lagi karena memperebutkanku. Embah ingin aku
untuk tinggal bersamanya selama aku di Bali tapi Pekak juga ingin aku untuk
tinggal bersamanya di [4]Ubud. Mereka terus meributkan hal ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama Embah di Renon karena memang
tentang aku akan training jaraknya akan lebih dekat dari rumah Embah daripada
dari Ubud,tapi untuk beberapa hari ke depan aku akan pergi ke Ubud untuk
liburan singkat sebelum aku memulai trainingku pada hari Selasa, 7 September
2010.
Kami pun segera melanjutkan
perjalanan ke Ubud,tapi sebelumnya aku harus mengantarkan titipan-titipan untuk
keluarga ayahku yang ada di Bali yang telah diamanatkan kepadaku untuk
diserahkan sekaligus aku mengunjungi mereka karena memang sudah lama juga kami
tak jumpa. Senang rasanya bisa bertemu dengan om dan tanteku yangsudah lama
merantau ke Bali bahkan sekarang sudah memiliki kehidupan yang cukup mapan di
sini. Aku ingin seperti mereka yang berjuang untuk membangun kehidupan mereka
sendiri. Setelah cukup lama bercanda gurau aku harus berpamitan untuk
melanjutkan perjalanan ke Ubud. Setiap jalan yang ku lalui menuju ke Ubud
membawa ingatanku pada waktu ketika aku masih kecil. Waktu ketika aku
tertawa,sakit,dan menangis. Meskipun sudah banyak yang berubah tapi suasananya
tak berubah sama sekali. Akhirnya aku mutuskan untuk mamir sebentar di tempat
tinggalku dulu bersama orang tuaku. Ternyata kamar tempat kami tinggal dulu
telah ditempati orang lain dan tentunya sudah ada perubahan dekorasi di sana.
Tempat ini membuatku ingat akan kerja keras ayah dan ibuku yang bekerja dari
pagi sampai pagi lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kami
sehari-hari, aku dan adikku selalu dititipkan di rumah Embah dan Pekak ketika
mereka bekerja. Aku sungguh bangga kepada mereka, mereka yang selalu bekerja
untuk kami tak peduli seberapa rendahnya pekerjaan itu mereka tetap
menjalaninya dengan sukacita yang penting pekerjaan itu bukannlah pekerjaan
yang hina dan tentu saja bisa menghasilkan uang untuk kami sekolah dan kami makan.
Hal membuatku terkejut saat itu ketika pemilik rumah kontrakan itu ternyata
masih mengenaliku. Dia masih mengingatku dan keluargaku juga ternyata dia
merindukan kami. Dia mengajakku untuk mengobrol sebentar. Kami mengenang
masa-masa ketika aku masih tinggal ditempat di tempat itu. Semua kejadian yang
pernah terjadi diceritakannya kembali kepadaku. Aku hanya bisa tersipu malu
ketika mendengar ceritanya,karena ternyata aku sangat bodoh dan memalukan
ketika aku kecil.Karena hari semakin sore aku harus segera melanjutkan
perjalanan ke Ubud karena sebenarnya perutku juga lapar. Aku ingin segera
memakan masakan khas Bali yang telah dimasak oleh Pekak di rumah. Aku segera
berpamitan kepada pemilik kontrakan dan dia mengatakan untuk sering-sering
mampir ketempatnya.
Sepanjang perjalan ke Ubud aku
menjadi seorang guide untuk temanku Tirsa yang beru pertama kalinya datang ke
Bali. Aku menjelaskan kepadanya sedikit tentang Bali yang aku ketahui dan
kelihatannya mendengarkanku dengan baik. Akhirnya kami sampai dirumah Pekak di
Banjar Tebongkang kecamatan Ubud Kabuaten Gianyar dan akhirnya juga setelah
sekian lama aku pergi sekarang aku kembali di rumah khas Bali ini. Tak ada yang
berubah,bahkan muka [5]dadongku tak berubah sedikitpun,mungkin
dia awet muda. Aku segera menuju kamarku dan berbaring sejenak untuk melepaskan
lelah. Tak begitu lama aku berbaring, aku mendengar suara Pekak yang memanggilku
dan Tirsa untuk segera makan. Kami segera berlari ke dapur untuk makan, karena
memang kami sudah sangat lapar. Pekak memasak makanan kesukaanku. Aku begitu
bersemangat memakannya. Ternyata Tirsa juga menyukai makanan Bali ini.
Syukurlah ternyata lidahnya cocok dengan masakan-masakan Bali. Setelah selesai
makan kami kembali beristirahat. Belum 1 hari aku berada di Bali aku sudah
merindukan Tondano. Aku tak menyangka kota kecil ini bisa membuatku
merindukannya. Ketika anganku sedang melayang,handphoneku berbunyi,ibuku
menelpon. Aku menjawabnya dan dia menanyakan kegiatan-kegiatan apa saja yang
telah aku lakukan setelah samai di Bali. Aku menceritakan semuanya. Dia
akhirnya menutup telponnya ketika selesai memberikanku nasehat. Aku tertidur
setelah selesai menelpon. Kira-kira jam 19.00,Pekak membangunkanku untuk makan
malam. Aku bangun dan segera makan sambil menonton televisi. Setelah selesai
aku dan tirsa pergi keluar untuk jalan-jalan sebentar menikmati indahnya malam
di pulau Dewata. Kami berjalan kaki dan menuju ke sebuah minimarket yang ada di
situ. Sesampainya di sana kami melihat baju-baju yang dijual di situ dan kamipun
memutuskan untuk membeli baju. Setelah cukup puas berjalan-jalan,kami pulang.
Dan sesampainya di rumah kami langsung tidur.
Minggu 5 September 2010 kami terbangun sekitar jam 09.00, kami mandi dan minum
secangkir teh. Seharusnya kami pergi ke gereja, tapi karena tak ada satupun
gereja di kampungku ini,karena memang gereja hanya ada di kota. Di kampung ini
karena hamper semua penduduknya beragama Hindu jadi yang kami lihat adalah [6]Pura bukan gereja dan itu berarti kami
tak bisa beribadah di gereja. Kakak sepupuku yang bernama Ni luh Putu Ayu Asri
Santika Dewi mengajak kami untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung sekaligus
berkunjung ke rumah-rumah saudara-saudara ibuku. Pertama kami mengunjungi rumah
[7]Mangku yang merupakan rumah tua Pekak.
Di rumah inilah Pekak dibesarkan bersama dengan saudara-saudaranya dan Mangku
ini adalah sepupu ibuku yang berarti dia adalah omku. Di sana aku bertemu keluarga besar ibuku yang sebagian besarnya
aku sudah lupa siapa nama mereka,aku hanya mengingat muka mereka. Mereka
memeluk dan menciumku. Mereka berbicara kepadaku menggunakan bahasa Bali,karena
memang mereka tidak terlalu fasih dengan bahsa Indonesia. Aku hanya terdiam dan
selalu tersenyum,karena aku tak bisa berbicara bahasa Bali,aku mengerti sedikit
apa yang mereka ucapkan,tapi aku tak bisa membalasnya. Aku hanya menjawab
dengan kata “Iya” stiap kali mereka bertanya kepadaku. Mungkin mereka telah
menertawakanku karena aku tak bisa bahasa Bali. Seandainya ada ibuku di
sini,dia pasti akan menjadi penerjemahku. Sungguh aku malu saat itu dan mereka
mengatakan pada sepupuku untuk mengajarkanku bahasa Bali,karena aku orang Bali
dan akan sangat memalukan jika aku tak bisa berbahasa Bali. Mulai saat itu aku
bertekad untuk belajar bahsa Bali sedikit demi sedikit,jika ayahku bisa
berbahsa Bali,akupun juga bisa,itulah tekadku saat itu. Kami pun segera
berpindah ke rumah saudaraku yang lain, begitu seterusnya sampai hari sudah
mulai sore dan kami pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ternyata
ayah dan ibu sepupuku yang merupakan kakak ibuku sudah berada di rumah. Aku
memanggil mereka dengan sebutan [8]Wak Laki dan [9]Wak cewek. Mereka menyambutku dan kami
mengobrol sebentar sambil makan malam bersama. Dan stelah itu aku pergi ke
kamar dan tidur.
Senin, 6 September 2010.Aku
bangun lebih awal dari hari sebelumnya. Pekak menyruhku untuk pergi membeli
bahan-bahan untuk keperluan memasak. Aku
pergi membelinya dengan berjalan kaki karena memang jaraknya hanya sekitar 100
meter dari rumah. Aku segera pulang setelah selasai membeli semua bahan yang
diperlukan dan pekak pun segera berkreasi dengan bahan-bahan itu. Dia memasak
dengan cepat. Kami makan dan setelah kami selesai makan kami segera mandi
karena kami memang sudah harus kembali ke Denpasar karena besok adalah hari di
mana kami akan memulai training kami. Pekak mengantarkan kami kembali ke
Denpasar ke rumah dimana Embah tinggal. Sesampainya di rumah Embah, kami
langsung masuk ke kamar dan pekak pun langsung kembali ke [10]Tebongkang. Kami segera beristirahat dan
mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok,karena hari esok mungkin akan
menjadi hari yang sulit untuk dilewati. Hari pertama kerja ditempat yang
benar-benar asing dan bertemu dengan orang-orang baru yang entah akan bagaimana
sikapnya terhadap kami.
Selasa 7 September 2010 jam
06.00, kami bersiap untuk pergi ke kantor. 07.00, kami berangkat dari rumah
dengan menggunakan ojek dan jam 07.15, kami sampai di kantor Bali Tours and
Travel. Kami langsung bertemu dengan manangernya yang bernama Ida Bangus Nada
dan dia menyambut kami dengan ramah. Dia memberikan pengarahan-pengarahan
kepada kami dan menyuruh stafnya untuk memperkenalkan dan mengajarkan kami
pekerjaan yang harus kami lakukan selama 4 bulan kami di sana. Aku merasa
sangat gugup dan takut. Aku takut akan melakukan kesalahan dan membuat orang
marah kepadaku. Pada saat itu aku hanya bisa berdoa dan berusaha untuk tetap
tenang. Kami mulai bisa mengerti dengan sistem-sistem yang ada di kantor itu
dan kami pun mulai mengoperasikannya. Tugas kami setiap hari adalah membuka
e-mail, merespon permintaan yang diinginkan oleh para tamu seperti meyiapkan
hotel yang mereka inginkan,jenis kamar yang mereka butuhkan dan untuk berapa
lama mereka akan tinggal di sana, menyiapkan tour mereka, kendaraan apa yang
akan mereka gunakan, guide seperti apa yang mereka inginkan dan segala
permintaan juga kebutuhan mereka selama di Bali. Dan setelah mengkonfirmasi
lagi kepada mereka melalui e-mail bahwa semuanya telap siap, kemudian
memasukkan segala data tentang tamu ke dalam komputer,membuat rincian biaya
yang harus mereka bayar an kemuadian menunggu sampai tamu datang sesuai yang
telah terjadwal. Bukan pekerjaan yang mudah tapi cukup mnyenangkan, karena kami
bekerja dengan orang-orang yang professional dan mau membagi ilmunya kepada
kami yang masih junior. Setiap hari selalu seperti ini. Awalnya kami sedkit
bosan dan berpkir untuk segera kembali ke Tondano,tapi setelah 1 bulan berlalu
kami mulai terbiasa dan sangat menikmati pekerjaan ini. Kami mendapatkan teman
baru bernama Murda. Dia adalah seorang anak training juga tapi dia berasal dari
Bali tidak seperti kami yang berasal dari sebuah pulau berbentuk huruf K di
daerah timur. Kami berteman dengan baik dan saling membantu satu dengan yang
lain dalam mengerjakan tugas-tugas kami di kantor.
![]() |
| With Om Masen's daughter |
Kamis, 9 September 2010. Hari ini
aku dan Tirsa di ajak jalan-jalan ke rumah saudara ibuku (Om Masen) di daerah Nusa Dua
tepatnya di area perumahan di kampus Udayana di Nusa Dua,Bali.
Rabu, 13 Oktober 2010. Hari ini
aku,Tirsa dan Murda mendapatkan tugas di luar kantor. Kami bertiga bersama
dengan Kak Ery melakukan kunjungan di hotel-hotel di sekitaran Sanur-Kuta untuk
mengecek apakah tamu-tamu kami mendapatkan pelayanan yang baik dan apakah
mereka merasa nyaman menginap di hotel tersebut Begitu banyak hotel-hotel berbintang yang kami
kunjungi dan untunglah tak ada satu pun keluhan dari tamu. Dan sebelum kembali
ke kantor kami mampir di pinggir pantai Kuta untuk makan dan melepas kelelahan.
Rujak dan es kelapa muda menjadi pilihanku sore itu.
Rabu,20 Oktober 2010. Hari ini
kami ditugaskan untuk menguti sebuah tour bersama dua orang tamu yang berasal
dari England dan tugas kami saat ini adalah menjadi asisten guide utama. Kami
berangkat dari kantor jam 1 siang dan
kami segera menuju ke hotel di mana tamu kami menginap untuk menjemput
mereka. Kami tiba di hotel sekitar jam setengah 2 siang. Kami menunggu di lobi
hotel dan tak lama kemudian mereka datang. Kami berkenalan dan
berbincang-bincang sedikit tentang tour kami di sore itu. Mereka terlihat
sangat tertarik dengan tour ini dan kami pun tak ingin membuang-buang waktu
maka kami langsung berangkat menuju tempat tujuan kami yaitu, [11]Tanah Lot. Kami menempuh perlajalan
sekitar 1 jam hingga kami tiba di salah satu objek wisata yang sangat terkenal
di pulau dewata ini. Ketika kami masuk ke dalam tempat ini kami dibuat
terkagum-kagum dan terpesona dengan keindahan laut dan tebing-tebing batu yang menghiasi
tempat ini. Suara ombak dan tiupan angin yang sangat menyegarkan menyambut
kami. Dan tempat ini membawaku kembali dalam kenangan masa kecilku. Aku sering
datang di tempat ini bersama keluargaku dan itu membuatku merindukan masa-masa
ketika aku masih dalam dekapan hangat ayahku. Kami berjalan-jalan sambil
menikmati pemandangan yang begitu indah di tempat ini dan kami pun tak lupa
untuk mengabadikan moment tersebut dengan berfoto bersama-sama.| Novinda,Bunda,Tirsa,Murda |
Aku merasa terlihat cantik ketika menggunakan pakaian adat ini. Sesampainya di kantor kami menjadi bahan tertawaan oleh para pegawai kantor karena mungkin kami terlihat lucu mengenakan pakaian adat ini,karena mereka biasa melihat kami mengenakan kemeja putih dan celana hitam setiap harinya sekarang kami datang dengan menggunakan kebaya,kain batik dan selendang. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan,karena kami mengenakan baju adat ke kantor dan ikut bersama-sama umat Hindu lainnya yang bekerja di sekitar wilayah kantor kami beribadah bersama walaupun aku dan Tirsa tidak ikut dalam prosesi ibadahnya tapi kami ikut menikmati makanannya.
Senin, 25 Oktober 2010. Setelah
pulang kantor aku dan Tirsa di ajak makan malam bersama oleh saudaraku yang
biasa aku panggil Kak Mike dan Deni. Kami makan malam di Tiara Dewata. Kami
bercanda ria dan memikmati suasana malam yang ditaburi bintang-bintang bersama
makanan yang enak juga. Terima Kasih saudaraku.
Minggu, 31 Oktober 2010. Aku dan
Tirsa pergi ke gereja untuk beribadah bersama. Setelah selesai ibadah kami
dijemput oleh tanteku beserta suami dan anak-anaknya dan kemudian kami dibawa
ke MagDonals untuk makan bersama.
Tidak terasa hari begitu cepat
berlalu. Kami menjalani setiap pekerjaan yang diberikan kepada kami dengan
sukacita, karena disitulah kami belajar dan mendapatkan pengetahuan juga
pengalaman yang tidak bisa terlupakan. Tapi ada saatnya juga kami merasa bosan
dan capek dengan pekerjaan kami juga merasa rindu dengan keluarga kami, saat
itulah kami butuh waktu untuk menyengarkan kembali otak dan semangat kami. Kami
mengatasi itu semua dengan berjalan-jalan. Terkadang setelah pulang kantor kami
berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan yang letaknya tidak jauh dari tempat
tinggal kami atau seringkali kami juga pergi ke pantai Sanur yang letaknya hari
sekitar 100 m dari kantor kami hanya untuk makan siang atau sekedar menikmati
hembusan angin pantai dan lembutnya pasir. Dengan cara sperti ini kami bisa
mendapatkan kembali semangat kami dan menyengarkan kembali otak dan tubuh kami.
Dan tak terasa waktu pun begitu cepat berlalu menghilangkan semua perasaan
sakit di hati dan membawa kebahagiaan baru.
Senin,1 November 2010. Karena
pekerjaan di kantor telah selesai tapi waktu belum menunjukkan jam untuk pulang
ke rumah, maka aku dan Tirsa di ajak untuk pergi jalan-jalan ke daerah Kuta
oleh pegawai-pegawai kantor Bali Tours(Buk Adek,Pak Suardika, dan Pak Gede).
Kami langsung menerima ajakan tersebut dan merasa sangat bahagia,karena bisa
jalan-jalan gratis. Kami menggunakn kendaraan kantor, karena memang waktu itu
kegiatan tour sedang sepi,jadi kami diijinkan untuk meminjam kendaraan kantor.Kami
mengunjungi tempat belanja oleh-oleh khas Bali yang bernama Joger. Katanya
setiap orang yang datang ke Bali jika tidak mengunjungi Joger tidak benar-benar
datang ke Bali. Kami masuk ke Joger dan ketika masuk kami diberikan stiker yang
bertuliskan VIP sebagai tanda identitas kami dan hanya yang memakai stiker ini
yang diijinkan masuk. Aku berpikir kenapa tulisan di stiker itu bertuliskan
VIP, apakah setiap orang yang masuk ke situ hanya orang-orang tertentu
saja,karena setahuku VIP itu adalah kependekan dari Very Important Person. Tapi
ternyata aku salah di Joger VIP itu adalah singkatan dari Very Iseng Person dan
orang-orang yang masuk ke Joger adalah orang-orang yang iseng dan tidak ada
kerjaan. Aku tertawa dalam hatiku karena hal itu. Ketika masuk ke dalam aku terkejut
karena ternyata di dalam aku bertemu dengan Rano Karno artis Indonesia yang
membintangi film “Si Doel Anak Sekolahan”. Kami segera mengambil foto bersama
dengannya dan dia menyambut kami dengan sangat ramah. Ternyata Joger Bali ini
banyak kedatangan artis-artis luar negeri maupun dalam negeri. Mereka sering
berbelanja oleh-oleh di sini. Dan pada waktu itu kami bertemu dengan Rano
Karno.
| With Rano Karno at Joger Bali |
Selasa, 2 November 2010. Setelah
kemarin kami puas jalan-jalan,hari ini kami mendapat undangan dari Kerajaan
Peliatan,Ubud untuk menghadiri acara [12]Ngaben
Raja Peliatan. Kami pergi ke [13]Puri
Peliatan dengan mengendari mobil kantor dan kami diharuskan untuk menggunakan
baju adat lagi.
Tapi Tirsa tidak mau mengenakan pakaian adat lagi,jadi hanya
dia yang menggunakan baju biasa. Bahkan para turis-turis yang datang ke acara
itu mengenakan selendang atau kain untuk menghormati acara dan adat kerajaan.
Orang-orang yang datang ke acara ngaben ini sangat banyak dan dari berbagai
kalangan, ada yang dari luar negeri dan dalam negeri,ada anggota keluarga
kerajaan dan rakyat biasa karena memang acara ini dibuka untuk umum. Karena
kami mendapatkan undangan khusus yang diberikan oleh Bos kami, maka kami bisa
masuk sampai ke dalam kerajaan dan melihat dengan dekat jenasah sang raja yang
telah terbaring kaku dalam petinya, selain itu juga bisa makan siang bersama
sehidangan dengan keluarga kerajaan lainnya. Sungguh kesempatan yang luar
biasa,karena kami bisa menyaksikan acara ngaben terbesar di Pulau Bali ini beserta
segala prosesi adatnya.
| Suasana di dalam Puri |
Senin, 8 November 2010. Kami
mendapat tugas untuk menjadi asisten guide lagi hari ini,tapi kali ini kami
akan tour bersama tamu yang berasal dari spanyol yang tidak tahu sama sekali
bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Maka sang guide pun yang menjadi
penerjemah untuk kami. Tapi kami sangat menikmati perjalanan ini karena tamu
ini juga mau mengajarkan bahsa Spanyol kepada kami dan dia juga terlihat sangat
senang bisa berjalan-jalan bersama kami.
Kali ini kami menuju ke Uluwatu yang juga merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di Bali,tapi kami harus berhati-hati di tempat ini karena di tempat ini ada banyak sekali monyet yang berjaga-jaga disekitar tempat ini bahkan disetiap sudut tempat ini dan mereka siap untuk menyerang para tamu-tamu yang datang ke tempat ini yang menggunakan segela macam jenis aksesoris baik yang dipakai di tangan,leher,ataupun rambut. Entah kenapa para monyet ini bersikap seperti ini,tapi itulah peraturannya ditempat ini yaitu para tamu tidak diperbolehkan menggunakan kalung,gelang,jepitan rambut atau segala macam aksesoris yang bisa menarik perhatian para monyet,karena pasti mereka akan merampas barang-barang tersebut. Juga ketika berjalan kami tidak boleh melihat mata para moyet karena mereka akan marah dan merasa terganggu. Oleh sebab itu sebelum kami masuk ke dalam kami harus melepaskan segala perhiasan yang kami pakai dan menyimpannya di tempat yang aman. Kami masuk ke dalam tempat ini dengan hati yang sedikit was-was karena kami takut monyet-monyet itu akan menyerang kami. Tapi untunglah semua itu tidak terjadi dan kami pun bisa menikmati keindahan hutan,laut dan tebing yang telihat sangat mengagumkan dari tempat ini. Dan tidak lupa juga kami mengambil beberapa foto ditempat ini.
![]() |
| at Uluwatu |
Kali ini kami menuju ke Uluwatu yang juga merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di Bali,tapi kami harus berhati-hati di tempat ini karena di tempat ini ada banyak sekali monyet yang berjaga-jaga disekitar tempat ini bahkan disetiap sudut tempat ini dan mereka siap untuk menyerang para tamu-tamu yang datang ke tempat ini yang menggunakan segela macam jenis aksesoris baik yang dipakai di tangan,leher,ataupun rambut. Entah kenapa para monyet ini bersikap seperti ini,tapi itulah peraturannya ditempat ini yaitu para tamu tidak diperbolehkan menggunakan kalung,gelang,jepitan rambut atau segala macam aksesoris yang bisa menarik perhatian para monyet,karena pasti mereka akan merampas barang-barang tersebut. Juga ketika berjalan kami tidak boleh melihat mata para moyet karena mereka akan marah dan merasa terganggu. Oleh sebab itu sebelum kami masuk ke dalam kami harus melepaskan segala perhiasan yang kami pakai dan menyimpannya di tempat yang aman. Kami masuk ke dalam tempat ini dengan hati yang sedikit was-was karena kami takut monyet-monyet itu akan menyerang kami. Tapi untunglah semua itu tidak terjadi dan kami pun bisa menikmati keindahan hutan,laut dan tebing yang telihat sangat mengagumkan dari tempat ini. Dan tidak lupa juga kami mengambil beberapa foto ditempat ini.
![]() |
| Evelyn Manangkot |
Dia lucu dan menggemaskan. Aku menyukainya. Sebelum pulang, omku memanggilku dan memberikanku uang untuk uang sakuku.
Senin, 15 November 2010. Hari
yang baru datang lagi. Mentari bersinar sangat indah. Kami bersiap pergi ke
kantor seperti biasanya,tapi kali ini perasaanku sedikit aneh seperti ada
sesuatu yang akan terjadi. Entahlah! Sesampainya di kantor aku langsung
melaksanakan pekerjaanku seperti biasa, tapi suasana di kantor agak sedikit
aneh. Entah apa yang terjadi. Aku menjadi seperti orang asing hari itu.
Orang-orang di kantor selalu mengacuhkanku. Dan hari itu apa yang aku lakukan
selalu dianggap salah. Suasana ini membuatku bosan dan lelah. Apa yang salah
dengan mereka? Akhirnya semua pertanyaanku terjawab. Sore itu aku mendapat telpon dari atas bahwa Bos besar
memanggilku untuk segera ke ruangannya. Aku sedikit takut. Aku pergi ke
ruangannya dan mengetuk pintu,tapi ternyata tidak ada orang di dalam. Aku
kembali ke tempatku dan ketika aku membuka pintu aku mendapatkan diriku basah
dan mereka berteriak “Surprise, Selamat Ulang Tahun”.
Ohh, ternyata aku dikerjain. Mereka membuat sebuah pesta kecil di kantor untuk merayakan hari ulang tahunku. Terima Kasih semuanya, Aku sangat bahagia. Terima kasih untuk pestanya,terima kasih untuk kue dan es krimnya,terima kasih telah membuatku basah dan terima kasih telah menghias wajahku dengan mentega dank rim warna-warni. Sungguh hari yang menyenangkan karena hari itu aku menjadi orang yang aneh.
Ohh, ternyata aku dikerjain. Mereka membuat sebuah pesta kecil di kantor untuk merayakan hari ulang tahunku. Terima Kasih semuanya, Aku sangat bahagia. Terima kasih untuk pestanya,terima kasih untuk kue dan es krimnya,terima kasih telah membuatku basah dan terima kasih telah menghias wajahku dengan mentega dank rim warna-warni. Sungguh hari yang menyenangkan karena hari itu aku menjadi orang yang aneh.
| Bali Tour's family |
Tidak terasa ternyata kami telah 3 bulan berada di Bali dan itu tandanya tinggal 1 bulan lagi kami berda di tempat ini. Rasanya waktu begitu cepat berlalu dan ternyata telah begitu banyak hal yang kami alami dan kami pelajari di tempat ini. Suasana di kantor semakin menyenangkan,karena hampir setiap hari aku dan Tirsa selalu mendapat traktiran makanan dan minuman dari kakak-kakak pegawai kantor. Kami merasa sangat menikmati semua ini dan tidak ingin untuk meninggalkannya.
Kamis,2 Desember 2010. Kami
mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tour lagi hari ini. Dan tamu yang akan
kami bawa jalan-jalan kali ini adalah pasangan suami-istri dari Inggris yang
sedang berbulan madu. Kami berangkat dari kantor kami berangkat sekitar jam 7
pagi dan kami menuju ke sebuah hotel di daerah Nusa Dua untuk menjemput tamu
kami ini. Sekitar jam 8 kami tiba di hotel dan langsung bertemu dengan tamu
kami ini. Kami berkenalan dan berbincang-bincang sedikit kemudian kami langsung
berangkat ke tempat tujuan wisata kami yang pertama yaitu ke daerah Ubud untuk
menonton pertunjukan kesenian tradisional Bali berupa tari-tarian.Sesampainya
ditempat pertunjukan kami langsung dipersilakan untuk segera masuk karena
pertunjukannya sudah dimulai.Kami sangat menikmati pertunjukannya. Dan setelah
pertunjukan selesai kami segera berangkat menuju ke tempat kerajinan seni
lainnya yaitu sebuah galeri lukisan. Di sana terpajang banyak sekali
lukisan-lukisan yang sangat indah dan tidak hanya itu saja di sana kami juga
bisa belajar melukis.
Sangat menyenangkan. Ternyata perjalanan kami hari ini tidak berhenti di galeri lukisan tapi berlanjut ke sebuah taman safari dan arum jeram. Di tempat ini tamu kami dimanjakan dengan perjalanan mengelilingi taman dengan menaiki gajah. Dan sambil menunggu tamu kami yang sedang berjalan-jalan,kami makan siang di restaurant yang ada di tempat itu. Sambil makan siang kami berbincang-bincang dengan para pemandu wisata yang juga sedang menikmati makan siang. Setelah selesai makan kami ditawari untuk jalan-jalan dengan gajah. Aku dan Tirsa merasa sangat senang karena ini pengalaman pertama kami menaiki gajah walaupun ada sedikit rasa takut juga dalam hati kami. Kami takut jatuh dari atas gajah.Tapi karena rasa penasaran,kami memberanikan diri untuk tetap menaikinya. Dan ternyata rasanya sangat menyenangkan bisa memegang dan menaiki gajah. Kami diajak berkeliling taman menaiki gajah.Kami sangat menikmatinya. Tak lama kemudian tamu kami datang dan itu tandanya kami sudah harus melanjutkan perjalanan kami kembali. Tujuan kami selanjutnya adalah Gua Gajah. Tempat ini jaraknya sangat dekat dengan rumah pekak di Tebongkang. Rasanya aku ingin memeluk pekak saat itu karena tiba-tiba aku merasa sangat merindukannya,tapi keinginan itu tak bisa ku wujudkan saat itu karena aku sedang melaksanakan pekerjaanku yang tak mungkin untuk ku tinggalkan. Tak apalah,aku coba tuk tetap menikmati perjalanan ini. Tempat ini dikatakan sebagai Gua Gajah bukan karena di tempat ini ada banyak gajah melainkan karena bagunan gua ini terlihat seperti muka gajah dan tempat ini merupakan sebuah tempat pertapaan pada waktu yang lampau. Sebagai kenang-kenangan kami juga mengambil beberapa foto di tempat ini. Dan ini merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi untuk hari ini. Sebelum kami pulang kami terlebih dulu mengantarkan tamu kami kembali ke hotel mereka. Sungguh perjalanan yang melelahkan tapi sangat menyenangkan.
Sangat menyenangkan. Ternyata perjalanan kami hari ini tidak berhenti di galeri lukisan tapi berlanjut ke sebuah taman safari dan arum jeram. Di tempat ini tamu kami dimanjakan dengan perjalanan mengelilingi taman dengan menaiki gajah. Dan sambil menunggu tamu kami yang sedang berjalan-jalan,kami makan siang di restaurant yang ada di tempat itu. Sambil makan siang kami berbincang-bincang dengan para pemandu wisata yang juga sedang menikmati makan siang. Setelah selesai makan kami ditawari untuk jalan-jalan dengan gajah. Aku dan Tirsa merasa sangat senang karena ini pengalaman pertama kami menaiki gajah walaupun ada sedikit rasa takut juga dalam hati kami. Kami takut jatuh dari atas gajah.Tapi karena rasa penasaran,kami memberanikan diri untuk tetap menaikinya. Dan ternyata rasanya sangat menyenangkan bisa memegang dan menaiki gajah. Kami diajak berkeliling taman menaiki gajah.Kami sangat menikmatinya. Tak lama kemudian tamu kami datang dan itu tandanya kami sudah harus melanjutkan perjalanan kami kembali. Tujuan kami selanjutnya adalah Gua Gajah. Tempat ini jaraknya sangat dekat dengan rumah pekak di Tebongkang. Rasanya aku ingin memeluk pekak saat itu karena tiba-tiba aku merasa sangat merindukannya,tapi keinginan itu tak bisa ku wujudkan saat itu karena aku sedang melaksanakan pekerjaanku yang tak mungkin untuk ku tinggalkan. Tak apalah,aku coba tuk tetap menikmati perjalanan ini. Tempat ini dikatakan sebagai Gua Gajah bukan karena di tempat ini ada banyak gajah melainkan karena bagunan gua ini terlihat seperti muka gajah dan tempat ini merupakan sebuah tempat pertapaan pada waktu yang lampau. Sebagai kenang-kenangan kami juga mengambil beberapa foto di tempat ini. Dan ini merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi untuk hari ini. Sebelum kami pulang kami terlebih dulu mengantarkan tamu kami kembali ke hotel mereka. Sungguh perjalanan yang melelahkan tapi sangat menyenangkan.
Minggu, 5 Desember 2010. Kami
mendapat jadwal untuk tour lagi dan masih dengan tamu yang sama,pasangan
suami-istri dari Inggris. Tempat pertama yang kami kunjungi kali ini adalah
Tanah Lot. Aku dan Tirsa kembali lagi ke tempat ini,sudah beberapa kali aku
mengunjungi tempat ini tapi tak pernah ada sedikitpun rasa bosan yang
kurasakan. Aku selalu merasa senang berada di tempat karena di tempat ini aku
bisa melihat luasnya lautan yang entah dimana ujungnya. Kami sangat menikmati
temat ini dengan sangat baik. Setelah cukup lama menikmati keindahan tempat
ini, kami meninggalan tempat ini dan melanjutkan perjalanan kami ke Bedugul. Di
tempat ini kami akan menikmati pemandangan danau yang indah dan merasakan
sejuknya udara pegunungan. Ketika berada di tempat ini aku merasa seperti
sedang berada di Tondano,karena udara di tempat ini hamper sama dengan di
Tondano. Ini bukan kali pertama aku datang ditempat ini. Aku sering mengunjungi
tempat ini bersama keluargaku dulu ketika aku masih kecil.Ternyata tempat ini
sudah banyak berubah dan itu membuatnya semakin indah.
Hari demi hari berlalu begitu
cepat tanpa terasa besok adalah hari Natal. Karena semua keluarga ibuku
beragama hindu maka di malam Natal ini aku dijemput omku untuk menginap di
rumahnya dan merayakan Natal bersama keluarganya.
Di malam Natal Aku,Tirsa, dan
ke dua anak omku yaitu Kak Meril dan Kak Mike Manangkot menghias pohon Natal dan
berfoto-foto bersama. Kami terlihat sangat bahagia. Karena malam sudah larut
malam kami pun tidur dan bersiap untuk menyambut Natal di esok hari.
![]() |
| Kak Meril,Novinda,Tirsa |
Sabtu,25 Desember 2010. Kami
pergi ke gereja bersama. Kam beribadah Natal di Gereja Maranatha, Denpasar.
Karena sakin banyaknya orang yang datang ke gereja maka kami mendapatkan tempat
duduk di luar gedung gereja. Suasana di gereja sangat sesak dan pengap tapi
tetap tenang. Setelah selesai ibadah kami mengunjungi rumah saudara ayahku juga
untuk mengucapkan selamat Natal sekaligus mengadakan acara makan-makan
sederhana. Walaupun hanya sederhana tapi menjadi sangat berarti karena di
tempat ini semua saudara-saudara ayahku yang merantau di Bali datang dan
berkumpul bersama layaknya sebuah keluarga besar Manangkot. Suasana rumah
menjadi sangat ramai dan menyenangkan. Karena sudah mulai sore kami berpamitan
untuk pergi mengunjungi rumah saudara dari tanteku yang juga merayakan Natal.
Di sana kami juga dihidangkan dengan makanan-makanan yang enak dan tanpa
berpikir panjang kami pun langsung memakannya. Di sana aku di kenalkan dengan
saudara-saudara tanteku dan mereka mengatakan bahwa aku itu cantik. Aku merasa
sangat malu,karena aku tidak merasa seprti itu dan aku bisa tersenyum
menanggapi perkataan mereka. Setelah Selesai berjalan-jalan kami pulang ke
rumah dan beristirahat. Dan tak lupa juga aku menelpon ayah da ibuku untuk
mengucapkan selamat natal dan menanyakan kabar mereka.
Minggu,26 Desember 2010. Hari
Natal ke dua dan kami harus masuk gereja terpisah. Omku masuk gereja di gereja
Maranatha karena dia harus melayani pelayanan baptisan karena dia adalah
seorang Penatua. Sedangkan kak Mike akan masuk gereja bersama pacarnya. Maka
aku,Tirsa,Kak Meril dan tanteku masuk geraja bersama di sebuah geraja yang
jaraknya tak jauh dari rumah. Setelah pulang gereja kami berkumpul kembali di
rumah omku dan kami kedatangan tamu hari ini.
Saudara tanteku yang kemarin kami kunjungi sekarang mengunjungi kami dan
dia datang bersama anak sulungnya yang seumuran denganku. Kami berkenalan dan
ternyata namanya Bagoes Fernando tapi biasa dipanggil Ebik. Dia adalah seorang
atlit bulu tangkis dan itulah mengapa dia sangat tinggi. Kami
berbincang-bincang dan entah kenapa aku merasa bahwa terus memandangiku. Tak
lama kami berbincang-bincang,dia berpamitan karena dia ada jadwal latihan bulu
tangkis hari itu. Aku dan Tirsa masuk ke kamar dan beristirahat karena besok
kami sudah harus bekerja lagi. Ketika kami sedang berada di dalam kamar
tiba-tiba handphoneku berbunyi dan ternyata aku mendapatkan pesan dari nomor
yang tak ku kenal. Ternyata itu adalah nomor Ebik. Dia meminta nomorku dari Kak
Meril. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku dan ingin bertemu denganku lagi. Aku
hanya diam menanggapi apa yang dikatakannya. Terima Kasih telah menyukaiku.
Senin,27 Desember 2010. Kembali
lagi kerutinitas kami seperti biasa. Kami pergi ke kantor dan melakukan
pekerjaan kami seperti hari-hari sebelumnya.
Tanpa terasa tinggal beberapa
minggu lagi kami harus menjalani pekerjaan kami ini karena pada tanggal 7
Januari kami diwajibkan untuk kembali ke Manado atau dengan kata lain kami
telah menyelesaikan praktek kerja ini. Dan itu tandanya kami sudah harus
menyusun laporan hasil praktek kami. Perasaan kami menjadi sedikit gundah
menyadari hal ini. Kami senang akhirnya kami bisa kembali lagi ke Manado dan
bertemu keluarga dan teman-teman kami tapi terselip juga perasaan sedih yang
kami rasakan karena kami harus berpisah dengan kehidupan kami di sini dan
segala kenangan indah yang telah ada. Ternyata tak hanya kami yang merasakan
kesedihan ini, pegawai-pegawai kantor kami di Bali Tours yang merupakan
keluarga baru kami juga merasakan hal
yang sama. Mereka mengatakan kepada kami untuk tetap tinggal di sini dan
langsung bekerja di tempat ini. Tapi semua itu tidak mungkin bagi kami karena
kami masih harus menyelesaikan sekolah kami dulu dan akhirnya kami berjanji
kepada mereka bahwa akan segera kembali ke Bali setelah kami mendapatkan ijasah
SMK kami.
Jumat,31 Desember 2010. Kami
mengadakan pesta akhir tahun di kantor yang juga dirangkaikan dengan acara
perpisahan kami. Kami sangat menikmati pesta ini dan merasa sangat bahagia.
Kami saling bertukaran kado,bernyanyi bersama,bergoyang bersama,makan dan minum
bersama. Semua anggaran pesta ini ditanggung oleh pemilik Bali Tours. Dan hari
itu aku dan Tirsa mendapat hadiah yang banyak dari pegawai-pegawai kantor. Kami
merasa sangat senang. Setelah pulang kantor kami jalan-jalan di pantai sanur
yang jaraknya hanya 100 meter dari kantor kami dan di sani aku bertemu dengan
Ebik. Kami berjalan-jalan di sekitar pantai sambil berbincang-bincang. Dia
mengantarkanku pulang ke rumah dan kemudian dia mengajakku keluar lagi untuk
jalan-jalan. Dia mengajakku makan malam di MagDonal yang tempatnya tak jauh
dari rumahku. Dan saat itulah dia mengungkapkan perasaannya kepadaku dan dia
memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku bingung harus menjawab apa,sebenarnya
hatiku belum bisa menerimanya, tapi akhirnya aku menjawab ”iya” kepadanya. Aku
ingin coba untuk menjalani dengannya. Dia kelihatan sangat senang. Dia
menggenggam tanganku dan membawaku berjalan-jalan berkelilng kota Denpasar
dengan sepeda motornya. Ku melewati malam pergantian tahun bersamanya dengan
melihat pemandangan malam kota Denpasar dari atas motor.
Sabtu, 1 Januari 2011. Hari yang
baru di tahun yang baru. Aku dan Tirsa pergi ke gereja untk beribadah.
| Tanah Lot |
| Monumen Bom Bali 1 |
| Patung Dewa Wisnu |
Senin, 3 Januari 2011. Hari terakhir kami di kantor. Dan kami mendapatkan tugas di luar kantor. Kami bersama pegawai-pegawai kantor lainnya mengadakan kunjungan kerja mendadak ke hotel-hotel di daerah Ubud yang menjadi mitra kantor kami. Ada beberapa hotel yang kami kunjungi. Di hotel-hotel ini kami memeriksa segala macam fasilitas-fasilitas yang disediakan di hotel ini mulai dari kondisi kamar, kolam renang dan masih banyak yang lainnya. Kami di sambut dengan begitu ramah dengan para pegawai hotel-hotel ini. Dan perjalanan kerja kami di hari terakhir kami ini sangat menyenangkan. Dan terima kasih untuk semuanya.
Selasa, 4 Januari 2011. Hari ini aku,Tirsa,Ebik dan
Decky menikmati hari kami untuk jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk keluarga dan
teman-teman kami di Manado. Kami mengelilingi kota Denpasar lagi untuk berburu
oleh-oleh. Dan setelah kami menemukan semua yang kami cari kami pun kembali ke
rumah dan segera mengemasi barang-barang kami karena besok sore kami akan
kembali ke Manado.
Rabu, 5 Januari 2011. Ebik datang
ke rumah untuk bertemu denganku untuk yang terakhir kali. Dia mengatakan dia
tak bisa mengantarku ke bandara karena dia ada pertandingan bulu tangkis sore
itu. Dia memberikanku kalungnya dan memintaku untuk selalu menggunakannya.
Terima Kasih Ebik. Kami pun berangkat menuju ke bandara. Sesampainya di bandara
aku berpamitan dengan tanteku dan saudara-saudaraku lainnya. Aku mencari pekak
untuk berpamitan tapi aku tak bisa menemukannya karena katanya dia sedang
memarkirkan mobil. Aku ingin menunggunya tapi aku sudah harus masuk ke dalam
untuk segera check in. Akhirnya aku masuk tanpa berpamitan dengan pekak. Aku
dan Tirsa masuk ke dalam bandara. Kami di antar oleh seorang pegawai kantor
kami yang bertugas di bandara (Kak Teja Semara). Dan ketika pengecekan bagasi
ternyata bagasi kami melebihi ketentuan yang di tetapkan maka kami pun harus
membayarnya. Yang harus kami bayar adalah Rp. 400.000 tapi karena ada Kak Teja
kami mendapatkan keringanan biaya, dan kami hanya harus membayar Rp. 200.000.
Kami pun berpindah ke tempat pembayaran Airport tax, dan aku sudah tidak
mempunyai uang lagi. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya kak Teja menolongku
dengan membayarkan uang airport taxku. Aku sangat bersyukur dan sangat
berterima kasih kepadanya. Kami pun segera masuk ke dalam pesawat. Di pesawat
kami bersebelahan tempat duduk dengan seorang ibu yang juga asal Manado. Kami
berbincang-bincang dengannya selama penerbangan ini. Setelah menempuh
perjalanan selama kurang lebih 2 jam kami pun tiba di bandara Hasadudin
Makasar. Di sini aku dan Tirsa harus berpisah,karena aku harus melanjutkan
perjalanan ke Manado sedangkan Tirsa harus melanjutkan perjalanan ke Ternate
untuk bertemu dengan kakaknya. Dan saat itu aku merasa sangat kelaparan karena
memang dari pagi aku belum makan apapun juga. Aku ingin membeli makanan tapi
aku tidak punya uang. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk bisa menguatkan
aku sampai aku bisa tiba di Manado dengan selamat. Dan ternyata Tuhan
menolongku melalui seorang ibu yang duduk bersebelahan denganku di pesawat. Ibu
ini mengajakku untuk makan bersamanya di sebuah restaurant yang ada di bandara.
Terima kasih Tuhan. Kami pun makan bersama dan setelah 30 menit waktu berlalu,
kami pun segera masuk kembali ke dalam pesawat karena sudah waktunya kami untuk
melanjutkan perjalanan menuju ke Manado. Dan sekitar jam 10 malam kami pun tiba
di bandara Sam Ratulangi Manado dengan selamat. Terima Kasih Tuhan.
[1] Embah
: sebutan untuk Oma atau nenek
[2] Pekak
: sebutan untuk Opa atau kakek
[3]
Renon : nama sebuah daerah di Bali
[4]Ubud
: sebuah kecamatan di Bali dan disinilah ibuku berasal.
[5]
Dadong : sebutan untuk oma dalam bahasa Bali
[6]
Pura : tempat ibadah umat Hindu
[7]
Mangku : sebutan untuk pemuka agama Hindu
[8]
Wak Laki : panggilan untuk kakak laki-laki dari ayah/ibu
[9]
Wak cewek : panggilan untuk kakak perempuan dari ayah/ibu
[10]
Tebongkang : nama banjar yang ada di Ubud
[11]
Tanah Lot : Pulau kecil yang terapung di lautan (Tanah lot merupakan salah satu
tempat wisata yang terkenal di Bali)
[12]
Ngaben : Upacara adat pembakaran mayat di Bali
[13]
Puri : Tempat tinggi keluarga Raja di Bali








