Danau Bedugul, Bali

Danau Bedugul, Bali
Tirsa Moningka(kiri) Novinda Manangkot(kanan)

12 Mei 2013

Manado - Denpasar - Manado 2010/2011



Sebuah catatan
oleh
Novinda Frandiani Mananangkot 

Sabtu 4 September 2010 adalah hari keberangkatanku. Waktu di rumahku menunjukkan pukul 04.00 WITA, aku beserta orang tua juga adikku bersiap untuk berangkat ke bandara. Ada sedikit perasaan sedih saat itu. Aku harus meninggalkan sejenak kehidupan di tanah kelahiran ayahku ini dan berjuang di tanah kelahiranku. Tapi di tengah perasaan sedihku ada perasaan bahagia karena aku bisa meninggalkan kekecewaan dan rasa sakit hatiku kepada seseorang di sini yang kutahu akan sulit untuk ku lakukan jika aku terus berada di sini, karena saat itu aku sungguh masih menyayanginya,tapi aku sadar bukan aku yang dipilihnya,dia memutuskan untuk bersama yang lain. Begitu banyak tekanan yang kurasakan, dan aku senang akhirnya aku bisa meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini walaupun hanya sejenak. Sebenarnya aku takut aku tak akan pernah bisa kembali ke tempat ini lagi. Tapi biarlah waktu yang akan menjawab semuanya dan angin yang akan membawaku kembali jika memang itu yang ditakdirkan.
05.00 akhirnya kami sampai di Bandara Sam Ratulangi Manado. Aku menunggu ke dua temanku yang akan pergi bersamaku (Tirsa Moningka & Decky Mangowal). Tak lama aku menunggu akhirnya mereka datang dan kami pun segera masuk untuk check in dan menunggu waktu keberangkatan kami. 06.45 Kami berangkat dengan Lion Air JT 741 dengan tujuan Denpasar dan aku mendapatkan tempat duduk nomor 08E. Tak sabar rasanya aku ingin melihat tanah kelahiranku lagi yang telah begitu lama aku tinggalkan. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenakku sampai membuatku tidak bisa tidur di pesawat. Aku sangat merindukan keluarga besarku di sana. Apakah mereka baik-baik saja ? Apakah [1]Embah dan [2]pekak masih selalu bertengkar ? Apakah aku bisa bertahan ? 10.35 Akhirnya aku tiba di Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali. Hatiku sangat senang karena aku bisa melihat senyum Pekakku ketika aku turun dari pesawat. Rasanya baru kemarin aku berada dalam gendongannya. Dia memelukku dengan erat dan menangis. Aku hanya bisa diam dalam pelukkannya. Tapi, aku tak melihat sosok embahku di sana untuk menjemputkku. Akhirnya aku menemukan jawaban atas pertanyaanku di pesawat,Embah dan Pekak tidak berada dalam suasana yang baik. Aku tahu apa penyebabnya mungkin karena apa yang dipegang oleh pekak sampai sekarang yang sampai saat ini tak bisa ia lepaskan. Mungkin itu yang membuat kehidupan keluarga kami sedikit tidak harmonis dan hidup terpisah. Sejenak aku ingin melupakan kesedihanku ini, karena aku datang bukan untuk menangis lagi tapi untuk tersenyum.
Segera kami menuju ke rumah kakak Embahku tepatnya di perumahan dosen di belakang kampus Universitas Udayana di [3]Renon untuk bertemu dengan Embahku,karena memang disanalah di rumah kakaknya. Dia langsung memelukku dan menangis ketika dia melihatku. Aku tahu betapa dia sangat merindukanku. Seperti biasa Embah dan Pekakku bertengkar lagi karena memperebutkanku. Embah ingin aku untuk tinggal bersamanya selama aku di Bali tapi Pekak juga ingin aku untuk tinggal bersamanya di [4]Ubud. Mereka terus meributkan hal ini. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama Embah di Renon karena memang tentang aku akan training jaraknya akan lebih dekat dari rumah Embah daripada dari Ubud,tapi untuk beberapa hari ke depan aku akan pergi ke Ubud untuk liburan singkat sebelum aku memulai trainingku pada hari Selasa, 7 September 2010.
Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Ubud,tapi sebelumnya aku harus mengantarkan titipan-titipan untuk keluarga ayahku yang ada di Bali yang telah diamanatkan kepadaku untuk diserahkan sekaligus aku mengunjungi mereka karena memang sudah lama juga kami tak jumpa. Senang rasanya bisa bertemu dengan om dan tanteku yangsudah lama merantau ke Bali bahkan sekarang sudah memiliki kehidupan yang cukup mapan di sini. Aku ingin seperti mereka yang berjuang untuk membangun kehidupan mereka sendiri. Setelah cukup lama bercanda gurau aku harus berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Ubud. Setiap jalan yang ku lalui menuju ke Ubud membawa ingatanku pada waktu ketika aku masih kecil. Waktu ketika aku tertawa,sakit,dan menangis. Meskipun sudah banyak yang berubah tapi suasananya tak berubah sama sekali. Akhirnya aku mutuskan untuk mamir sebentar di tempat tinggalku dulu bersama orang tuaku. Ternyata kamar tempat kami tinggal dulu telah ditempati orang lain dan tentunya sudah ada perubahan dekorasi di sana. Tempat ini membuatku ingat akan kerja keras ayah dan ibuku yang bekerja dari pagi sampai pagi lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kami sehari-hari, aku dan adikku selalu dititipkan di rumah Embah dan Pekak ketika mereka bekerja. Aku sungguh bangga kepada mereka, mereka yang selalu bekerja untuk kami tak peduli seberapa rendahnya pekerjaan itu mereka tetap menjalaninya dengan sukacita yang penting pekerjaan itu bukannlah pekerjaan yang hina dan tentu saja bisa menghasilkan uang untuk kami sekolah dan kami makan. Hal membuatku terkejut saat itu ketika pemilik rumah kontrakan itu ternyata masih mengenaliku. Dia masih mengingatku dan keluargaku juga ternyata dia merindukan kami. Dia mengajakku untuk mengobrol sebentar. Kami mengenang masa-masa ketika aku masih tinggal ditempat di tempat itu. Semua kejadian yang pernah terjadi diceritakannya kembali kepadaku. Aku hanya bisa tersipu malu ketika mendengar ceritanya,karena ternyata aku sangat bodoh dan memalukan ketika aku kecil.Karena hari semakin sore aku harus segera melanjutkan perjalanan ke Ubud karena sebenarnya perutku juga lapar. Aku ingin segera memakan masakan khas Bali yang telah dimasak oleh Pekak di rumah. Aku segera berpamitan kepada pemilik kontrakan dan dia mengatakan untuk sering-sering mampir ketempatnya.
Sepanjang perjalan ke Ubud aku menjadi seorang guide untuk temanku Tirsa yang beru pertama kalinya datang ke Bali. Aku menjelaskan kepadanya sedikit tentang Bali yang aku ketahui dan kelihatannya mendengarkanku dengan baik. Akhirnya kami sampai dirumah Pekak di Banjar Tebongkang kecamatan Ubud Kabuaten Gianyar dan akhirnya juga setelah sekian lama aku pergi sekarang aku kembali di rumah khas Bali ini. Tak ada yang berubah,bahkan muka [5]dadongku tak berubah sedikitpun,mungkin dia awet muda. Aku segera menuju kamarku dan berbaring sejenak untuk melepaskan lelah. Tak begitu lama aku berbaring, aku mendengar suara Pekak yang memanggilku dan Tirsa untuk segera makan. Kami segera berlari ke dapur untuk makan, karena memang kami sudah sangat lapar. Pekak memasak makanan kesukaanku. Aku begitu bersemangat memakannya. Ternyata Tirsa juga menyukai makanan Bali ini. Syukurlah ternyata lidahnya cocok dengan masakan-masakan Bali. Setelah selesai makan kami kembali beristirahat. Belum 1 hari aku berada di Bali aku sudah merindukan Tondano. Aku tak menyangka kota kecil ini bisa membuatku merindukannya. Ketika anganku sedang melayang,handphoneku berbunyi,ibuku menelpon. Aku menjawabnya dan dia menanyakan kegiatan-kegiatan apa saja yang telah aku lakukan setelah samai di Bali. Aku menceritakan semuanya. Dia akhirnya menutup telponnya ketika selesai memberikanku nasehat. Aku tertidur setelah selesai menelpon. Kira-kira jam 19.00,Pekak membangunkanku untuk makan malam. Aku bangun dan segera makan sambil menonton televisi. Setelah selesai aku dan tirsa pergi keluar untuk jalan-jalan sebentar menikmati indahnya malam di pulau Dewata. Kami berjalan kaki dan menuju ke sebuah minimarket yang ada di situ. Sesampainya di sana kami melihat baju-baju yang dijual di situ dan kamipun memutuskan untuk membeli baju. Setelah cukup puas berjalan-jalan,kami pulang. Dan sesampainya di rumah kami langsung tidur.

Minggu 5 September 2010 kami terbangun sekitar jam 09.00, kami mandi dan minum secangkir teh. Seharusnya kami pergi ke gereja, tapi karena tak ada satupun gereja di kampungku ini,karena memang gereja hanya ada di kota. Di kampung ini karena hamper semua penduduknya beragama Hindu jadi yang kami lihat adalah [6]Pura bukan gereja dan itu berarti kami tak bisa beribadah di gereja. Kakak sepupuku yang bernama Ni luh Putu Ayu Asri Santika Dewi mengajak kami untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung sekaligus berkunjung ke rumah-rumah saudara-saudara ibuku. Pertama kami mengunjungi rumah [7]Mangku yang merupakan rumah tua Pekak. Di rumah inilah Pekak dibesarkan bersama dengan saudara-saudaranya dan Mangku ini adalah sepupu ibuku yang berarti dia adalah omku. Di sana aku bertemu  keluarga besar ibuku yang sebagian besarnya aku sudah lupa siapa nama mereka,aku hanya mengingat muka mereka. Mereka memeluk dan menciumku. Mereka berbicara kepadaku menggunakan bahasa Bali,karena memang mereka tidak terlalu fasih dengan bahsa Indonesia. Aku hanya terdiam dan selalu tersenyum,karena aku tak bisa berbicara bahasa Bali,aku mengerti sedikit apa yang mereka ucapkan,tapi aku tak bisa membalasnya. Aku hanya menjawab dengan kata “Iya” stiap kali mereka bertanya kepadaku. Mungkin mereka telah menertawakanku karena aku tak bisa bahasa Bali. Seandainya ada ibuku di sini,dia pasti akan menjadi penerjemahku. Sungguh aku malu saat itu dan mereka mengatakan pada sepupuku untuk mengajarkanku bahasa Bali,karena aku orang Bali dan akan sangat memalukan jika aku tak bisa berbahasa Bali. Mulai saat itu aku bertekad untuk belajar bahsa Bali sedikit demi sedikit,jika ayahku bisa berbahsa Bali,akupun juga bisa,itulah tekadku saat itu. Kami pun segera berpindah ke rumah saudaraku yang lain, begitu seterusnya sampai hari sudah mulai sore dan kami pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ternyata ayah dan ibu sepupuku yang merupakan kakak ibuku sudah berada di rumah. Aku memanggil mereka dengan sebutan [8]Wak Laki dan [9]Wak cewek. Mereka menyambutku dan kami mengobrol sebentar sambil makan malam bersama. Dan stelah itu aku pergi ke kamar dan tidur.

Senin, 6 September 2010.Aku bangun lebih awal dari hari sebelumnya. Pekak menyruhku untuk pergi membeli bahan-bahan untuk keperluan memasak.  Aku pergi membelinya dengan berjalan kaki karena memang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumah. Aku segera pulang setelah selasai membeli semua bahan yang diperlukan dan pekak pun segera berkreasi dengan bahan-bahan itu. Dia memasak dengan cepat. Kami makan dan setelah kami selesai makan kami segera mandi karena kami memang sudah harus kembali ke Denpasar karena besok adalah hari di mana kami akan memulai training kami. Pekak mengantarkan kami kembali ke Denpasar ke rumah dimana Embah tinggal. Sesampainya di rumah Embah, kami langsung masuk ke kamar dan pekak pun langsung kembali ke [10]Tebongkang. Kami segera beristirahat dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok,karena hari esok mungkin akan menjadi hari yang sulit untuk dilewati. Hari pertama kerja ditempat yang benar-benar asing dan bertemu dengan orang-orang baru yang entah akan bagaimana sikapnya terhadap kami.

Selasa 7 September 2010 jam 06.00, kami bersiap untuk pergi ke kantor. 07.00, kami berangkat dari rumah dengan menggunakan ojek dan jam 07.15, kami sampai di kantor Bali Tours and Travel. Kami langsung bertemu dengan manangernya yang bernama Ida Bangus Nada dan dia menyambut kami dengan ramah. Dia memberikan pengarahan-pengarahan kepada kami dan menyuruh stafnya untuk memperkenalkan dan mengajarkan kami pekerjaan yang harus kami lakukan selama 4 bulan kami di sana. Aku merasa sangat gugup dan takut. Aku takut akan melakukan kesalahan dan membuat orang marah kepadaku. Pada saat itu aku hanya bisa berdoa dan berusaha untuk tetap tenang. Kami mulai bisa mengerti dengan sistem-sistem yang ada di kantor itu dan kami pun mulai mengoperasikannya. Tugas kami setiap hari adalah membuka e-mail, merespon permintaan yang diinginkan oleh para tamu seperti meyiapkan hotel yang mereka inginkan,jenis kamar yang mereka butuhkan dan untuk berapa lama mereka akan tinggal di sana, menyiapkan tour mereka, kendaraan apa yang akan mereka gunakan, guide seperti apa yang mereka inginkan dan segala permintaan juga kebutuhan mereka selama di Bali. Dan setelah mengkonfirmasi lagi kepada mereka melalui e-mail bahwa semuanya telap siap, kemudian memasukkan segala data tentang tamu ke dalam komputer,membuat rincian biaya yang harus mereka bayar an kemuadian menunggu sampai tamu datang sesuai yang telah terjadwal. Bukan pekerjaan yang mudah tapi cukup mnyenangkan, karena kami bekerja dengan orang-orang yang professional dan mau membagi ilmunya kepada kami yang masih junior. Setiap hari selalu seperti ini. Awalnya kami sedkit bosan dan berpkir untuk segera kembali ke Tondano,tapi setelah 1 bulan berlalu kami mulai terbiasa dan sangat menikmati pekerjaan ini. Kami mendapatkan teman baru bernama Murda. Dia adalah seorang anak training juga tapi dia berasal dari Bali tidak seperti kami yang berasal dari sebuah pulau berbentuk huruf K di daerah timur. Kami berteman dengan baik dan saling membantu satu dengan yang lain dalam mengerjakan tugas-tugas kami di kantor.
With Om Masen's daughter

Kamis, 9 September 2010. Hari ini aku dan Tirsa di ajak jalan-jalan ke rumah saudara ibuku (Om Masen) di daerah Nusa Dua tepatnya di area perumahan di kampus Udayana di Nusa Dua,Bali.

Rabu, 13 Oktober 2010. Hari ini aku,Tirsa dan Murda mendapatkan tugas di luar kantor. Kami bertiga bersama dengan Kak Ery melakukan kunjungan di hotel-hotel di sekitaran Sanur-Kuta untuk mengecek apakah tamu-tamu kami mendapatkan pelayanan yang baik dan apakah mereka merasa nyaman menginap di hotel tersebut  Begitu banyak hotel-hotel berbintang yang kami kunjungi dan untunglah tak ada satu pun keluhan dari tamu. Dan sebelum kembali ke kantor kami mampir di pinggir pantai Kuta untuk makan dan melepas kelelahan. Rujak dan es kelapa muda menjadi pilihanku sore itu.

Rabu,20 Oktober 2010. Hari ini kami ditugaskan untuk menguti sebuah tour bersama dua orang tamu yang berasal dari England dan tugas kami saat ini adalah menjadi asisten guide utama. Kami berangkat dari kantor jam 1 siang dan  kami segera menuju ke hotel di mana tamu kami menginap untuk menjemput mereka. Kami tiba di hotel sekitar jam setengah 2 siang. Kami menunggu di lobi hotel dan tak lama kemudian mereka datang. Kami berkenalan dan berbincang-bincang sedikit tentang tour kami di sore itu. Mereka terlihat sangat tertarik dengan tour ini dan kami pun tak ingin membuang-buang waktu maka kami langsung berangkat menuju tempat tujuan kami yaitu, [11]Tanah Lot. Kami menempuh perlajalan sekitar 1 jam hingga kami tiba di salah satu objek wisata yang sangat terkenal di pulau dewata ini. Ketika kami masuk ke dalam tempat ini kami dibuat terkagum-kagum dan terpesona dengan keindahan laut dan tebing-tebing batu yang menghiasi tempat ini. Suara ombak dan tiupan angin yang sangat menyegarkan menyambut kami. Dan tempat ini membawaku kembali dalam kenangan masa kecilku. Aku sering datang di tempat ini bersama keluargaku dan itu membuatku merindukan masa-masa ketika aku masih dalam dekapan hangat ayahku. Kami berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan yang begitu indah di tempat ini dan kami pun tak lupa untuk mengabadikan moment tersebut dengan berfoto bersama-sama.

Novinda,Bunda,Tirsa,Murda 
Jumat,22 Oktober 2010. Hari ini kami diwajibkan pergi ke kantor dengan mengenakan pakaian adat Bali karena hari ini adalah salah satu hari raya umat Hindu. Aku dan Tirsa awalnya kebingungan mencari pakaian yang akan kami gunakan.Untungnya tanteku meminjamkan aku baju dan Tirsa meminjam baju dari ibunya Murda. Dan kami pun pergi ke kantor dengan mengenakan pakaian yang tidak seperti biasanya. Aku sedikit malu tapi sangat menikmatinya.
Aku merasa terlihat cantik ketika menggunakan pakaian adat ini. Sesampainya di kantor kami menjadi bahan tertawaan oleh para pegawai kantor karena mungkin kami terlihat lucu mengenakan pakaian adat ini,karena mereka biasa melihat kami mengenakan kemeja putih dan celana hitam setiap harinya sekarang kami datang dengan menggunakan kebaya,kain batik dan selendang. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan,karena kami mengenakan baju adat ke kantor dan ikut bersama-sama umat Hindu lainnya yang bekerja di sekitar wilayah kantor kami beribadah bersama walaupun aku dan Tirsa tidak ikut dalam prosesi ibadahnya tapi kami ikut menikmati makanannya.

Senin, 25 Oktober 2010. Setelah pulang kantor aku dan Tirsa di ajak makan malam bersama oleh saudaraku yang biasa aku panggil Kak Mike dan Deni. Kami makan malam di Tiara Dewata. Kami bercanda ria dan memikmati suasana malam yang ditaburi bintang-bintang bersama makanan yang enak juga. Terima Kasih saudaraku.
Tirsa,Kak Mike,Novinda

Minggu, 31 Oktober 2010. Aku dan Tirsa pergi ke gereja untuk beribadah bersama. Setelah selesai ibadah kami dijemput oleh tanteku beserta suami dan anak-anaknya dan kemudian kami dibawa ke MagDonals untuk makan bersama.
Tidak terasa hari begitu cepat berlalu. Kami menjalani setiap pekerjaan yang diberikan kepada kami dengan sukacita, karena disitulah kami belajar dan mendapatkan pengetahuan juga pengalaman yang tidak bisa terlupakan. Tapi ada saatnya juga kami merasa bosan dan capek dengan pekerjaan kami juga merasa rindu dengan keluarga kami, saat itulah kami butuh waktu untuk menyengarkan kembali otak dan semangat kami. Kami mengatasi itu semua dengan berjalan-jalan. Terkadang setelah pulang kantor kami berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kami atau seringkali kami juga pergi ke pantai Sanur yang letaknya hari sekitar 100 m dari kantor kami hanya untuk makan siang atau sekedar menikmati hembusan angin pantai dan lembutnya pasir. Dengan cara sperti ini kami bisa mendapatkan kembali semangat kami dan menyengarkan kembali otak dan tubuh kami. Dan tak terasa waktu pun begitu cepat berlalu menghilangkan semua perasaan sakit di hati dan membawa kebahagiaan baru.

Senin,1 November 2010. Karena pekerjaan di kantor telah selesai tapi waktu belum menunjukkan jam untuk pulang ke rumah, maka aku dan Tirsa di ajak untuk pergi jalan-jalan ke daerah Kuta oleh pegawai-pegawai kantor Bali Tours(Buk Adek,Pak Suardika, dan Pak Gede).
With Rano Karno at Joger Bali
Kami langsung menerima ajakan tersebut dan merasa sangat bahagia,karena bisa jalan-jalan gratis. Kami menggunakn kendaraan kantor, karena memang waktu itu kegiatan tour sedang sepi,jadi kami diijinkan untuk meminjam kendaraan kantor.Kami mengunjungi tempat belanja oleh-oleh khas Bali yang bernama Joger. Katanya setiap orang yang datang ke Bali jika tidak mengunjungi Joger tidak benar-benar datang ke Bali. Kami masuk ke Joger dan ketika masuk kami diberikan stiker yang bertuliskan VIP sebagai tanda identitas kami dan hanya yang memakai stiker ini yang diijinkan masuk. Aku berpikir kenapa tulisan di stiker itu bertuliskan VIP, apakah setiap orang yang masuk ke situ hanya orang-orang tertentu saja,karena setahuku VIP itu adalah kependekan dari Very Important Person. Tapi ternyata aku salah di Joger VIP itu adalah singkatan dari Very Iseng Person dan orang-orang yang masuk ke Joger adalah orang-orang yang iseng dan tidak ada kerjaan. Aku tertawa dalam hatiku karena hal itu. Ketika masuk ke dalam aku terkejut karena ternyata di dalam aku bertemu dengan Rano Karno artis Indonesia yang membintangi film “Si Doel Anak Sekolahan”. Kami segera mengambil foto bersama dengannya dan dia menyambut kami dengan sangat ramah. Ternyata Joger Bali ini banyak kedatangan artis-artis luar negeri maupun dalam negeri. Mereka sering berbelanja oleh-oleh di sini. Dan pada waktu itu kami bertemu dengan Rano Karno.


Selasa, 2 November 2010. Setelah kemarin kami puas jalan-jalan,hari ini kami mendapat undangan dari Kerajaan Peliatan,Ubud untuk menghadiri acara [12]Ngaben Raja Peliatan. Kami pergi ke [13]Puri Peliatan dengan mengendari mobil kantor dan kami diharuskan untuk menggunakan baju adat lagi.

Suasana di dalam Puri


Tapi Tirsa tidak mau mengenakan pakaian adat lagi,jadi hanya dia yang menggunakan baju biasa. Bahkan para turis-turis yang datang ke acara itu mengenakan selendang atau kain untuk menghormati acara dan adat kerajaan. Orang-orang yang datang ke acara ngaben ini sangat banyak dan dari berbagai kalangan, ada yang dari luar negeri dan dalam negeri,ada anggota keluarga kerajaan dan rakyat biasa karena memang acara ini dibuka untuk umum. Karena kami mendapatkan undangan khusus yang diberikan oleh Bos kami, maka kami bisa masuk sampai ke dalam kerajaan dan melihat dengan dekat jenasah sang raja yang telah terbaring kaku dalam petinya, selain itu juga bisa makan siang bersama sehidangan dengan keluarga kerajaan lainnya. Sungguh kesempatan yang luar biasa,karena kami bisa menyaksikan acara ngaben terbesar di Pulau Bali ini beserta segala prosesi adatnya.

Senin, 8 November 2010. Kami mendapat tugas untuk menjadi asisten guide lagi hari ini,tapi kali ini kami akan tour bersama tamu yang berasal dari spanyol yang tidak tahu sama sekali bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Maka sang guide pun yang menjadi penerjemah untuk kami. Tapi kami sangat menikmati perjalanan ini karena tamu ini juga mau mengajarkan bahsa Spanyol kepada kami dan dia juga terlihat sangat senang bisa berjalan-jalan bersama kami.
at Uluwatu

Kali ini kami menuju ke Uluwatu yang juga merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di Bali,tapi kami harus berhati-hati di tempat ini karena di tempat ini ada banyak sekali monyet yang berjaga-jaga disekitar tempat ini bahkan disetiap sudut tempat ini dan mereka siap untuk menyerang para tamu-tamu yang datang ke tempat ini yang menggunakan segela macam jenis aksesoris baik yang dipakai di tangan,leher,ataupun rambut. Entah kenapa para monyet ini bersikap seperti ini,tapi itulah peraturannya ditempat ini yaitu para tamu tidak diperbolehkan menggunakan kalung,gelang,jepitan rambut atau segala macam aksesoris yang bisa menarik perhatian para monyet,karena pasti mereka akan merampas barang-barang tersebut. Juga ketika berjalan kami tidak boleh melihat mata para moyet karena mereka akan marah dan merasa terganggu. Oleh sebab itu sebelum kami masuk ke dalam kami harus melepaskan segala perhiasan yang kami pakai dan menyimpannya di tempat yang aman. Kami masuk ke dalam tempat ini dengan hati yang sedikit was-was karena kami takut monyet-monyet itu akan menyerang kami. Tapi untunglah semua itu tidak terjadi dan kami pun bisa menikmati keindahan hutan,laut dan tebing yang telihat sangat mengagumkan dari tempat ini. Dan tidak lupa juga kami mengambil beberapa foto ditempat ini.

Evelyn Manangkot
Minggu, 14 November 2010. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17. Tak ada yang special tapi aku bersyukur karena Tuhan masih mengijinkanku hidup sampai saat ini. Hari ini aku pergi ke gereja untuk beribadah dan mengucap syukur. Terima Kasih Tuhan. Setelah pulang gereja aku dan Tirsa di jemput oleh saudara ayahku dan kami dan diajak jalan-jalan dalam rangka merayakan hari kelahiranku ini. Dia mengajak kami makam di KFC dan kemudian mengantarkan kami ke rumah kakak ayahku di Tabanan yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Ternyata omku telah mengangkat seorang anak sebagai anaknya karena memang telah belasan tahun dia menikah belum dikarunia anak dan sekarang akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat anak. Anak itu perempuan dan diberi nama Evelyn Manangkot.
Dia lucu dan menggemaskan. Aku menyukainya. Sebelum pulang, omku memanggilku dan memberikanku uang untuk uang sakuku.

Senin, 15 November 2010. Hari yang baru datang lagi. Mentari bersinar sangat indah. Kami bersiap pergi ke kantor seperti biasanya,tapi kali ini perasaanku sedikit aneh seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Entahlah! Sesampainya di kantor aku langsung melaksanakan pekerjaanku seperti biasa, tapi suasana di kantor agak sedikit aneh. Entah apa yang terjadi. Aku menjadi seperti orang asing hari itu. Orang-orang di kantor selalu mengacuhkanku. Dan hari itu apa yang aku lakukan selalu dianggap salah. Suasana ini membuatku bosan dan lelah. Apa yang salah dengan mereka? Akhirnya semua pertanyaanku terjawab. Sore itu aku mendapat telpon dari atas bahwa Bos besar memanggilku untuk segera ke ruangannya. Aku sedikit takut. Aku pergi ke ruangannya dan mengetuk pintu,tapi ternyata tidak ada orang di dalam. Aku kembali ke tempatku dan ketika aku membuka pintu aku mendapatkan diriku basah dan mereka berteriak “Surprise, Selamat Ulang Tahun”.
Ohh, ternyata aku dikerjain. Mereka membuat sebuah pesta kecil di kantor untuk merayakan hari ulang tahunku. Terima Kasih semuanya, Aku sangat bahagia. Terima kasih untuk pestanya,terima kasih untuk kue dan es krimnya,terima kasih telah membuatku basah dan terima kasih telah menghias wajahku dengan mentega dank rim warna-warni. Sungguh hari yang menyenangkan karena hari itu aku menjadi orang yang aneh.

Bali Tour's family

Tidak terasa ternyata kami telah 3 bulan berada di Bali dan itu tandanya tinggal 1 bulan lagi kami berda di tempat ini. Rasanya waktu begitu cepat berlalu dan ternyata telah begitu banyak hal yang kami alami dan kami pelajari di tempat ini. Suasana di kantor semakin menyenangkan,karena hampir setiap hari aku dan Tirsa selalu mendapat traktiran makanan dan minuman dari kakak-kakak pegawai kantor. Kami merasa sangat menikmati semua ini dan tidak ingin untuk meninggalkannya.

Kamis,2 Desember 2010. Kami mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tour lagi hari ini. Dan tamu yang akan kami bawa jalan-jalan kali ini adalah pasangan suami-istri dari Inggris yang sedang berbulan madu. Kami berangkat dari kantor kami berangkat sekitar jam 7 pagi dan kami menuju ke sebuah hotel di daerah Nusa Dua untuk menjemput tamu kami ini. Sekitar jam 8 kami tiba di hotel dan langsung bertemu dengan tamu kami ini. Kami berkenalan dan berbincang-bincang sedikit kemudian kami langsung berangkat ke tempat tujuan wisata kami yang pertama yaitu ke daerah Ubud untuk menonton pertunjukan kesenian tradisional Bali berupa tari-tarian.Sesampainya ditempat pertunjukan kami langsung dipersilakan untuk segera masuk karena pertunjukannya sudah dimulai.Kami sangat menikmati pertunjukannya. Dan setelah pertunjukan selesai kami segera berangkat menuju ke tempat kerajinan seni lainnya yaitu sebuah galeri lukisan. Di sana terpajang banyak sekali lukisan-lukisan yang sangat indah dan tidak hanya itu saja di sana kami juga bisa belajar melukis.
Sangat menyenangkan. Ternyata perjalanan kami hari ini tidak berhenti di galeri lukisan tapi berlanjut ke sebuah taman safari dan arum jeram. Di tempat ini tamu kami dimanjakan dengan perjalanan mengelilingi taman dengan menaiki gajah. Dan sambil menunggu tamu kami yang sedang berjalan-jalan,kami makan siang di restaurant yang ada di tempat itu. Sambil makan siang kami berbincang-bincang dengan para pemandu wisata yang juga sedang menikmati makan siang. Setelah selesai makan kami ditawari untuk jalan-jalan dengan gajah. Aku dan Tirsa merasa sangat senang karena ini pengalaman pertama kami menaiki gajah walaupun ada sedikit rasa takut juga dalam hati kami. Kami takut jatuh dari atas gajah.Tapi karena rasa penasaran,kami memberanikan diri untuk tetap menaikinya. Dan ternyata rasanya sangat menyenangkan bisa memegang dan menaiki gajah. Kami diajak berkeliling taman menaiki gajah.Kami sangat menikmatinya. Tak lama kemudian tamu kami datang dan itu tandanya kami sudah harus melanjutkan perjalanan kami kembali. Tujuan kami selanjutnya adalah Gua Gajah. Tempat ini jaraknya sangat dekat dengan rumah pekak di Tebongkang. Rasanya aku ingin memeluk pekak saat itu karena tiba-tiba aku merasa sangat merindukannya,tapi keinginan itu tak bisa ku wujudkan saat itu karena aku sedang melaksanakan pekerjaanku yang tak mungkin untuk ku tinggalkan. Tak apalah,aku coba tuk tetap menikmati perjalanan ini. Tempat ini dikatakan sebagai Gua Gajah bukan karena di tempat ini ada banyak gajah melainkan karena bagunan gua ini terlihat seperti muka gajah dan tempat ini merupakan sebuah tempat pertapaan pada waktu yang lampau. Sebagai kenang-kenangan kami juga mengambil beberapa foto di tempat ini. Dan ini merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi untuk hari ini. Sebelum kami pulang kami terlebih dulu mengantarkan tamu kami kembali ke hotel mereka. Sungguh perjalanan yang melelahkan tapi sangat menyenangkan.

Minggu, 5 Desember 2010. Kami mendapat jadwal untuk tour lagi dan masih dengan tamu yang sama,pasangan suami-istri dari Inggris. Tempat pertama yang kami kunjungi kali ini adalah Tanah Lot. Aku dan Tirsa kembali lagi ke tempat ini,sudah beberapa kali aku mengunjungi tempat ini tapi tak pernah ada sedikitpun rasa bosan yang kurasakan. Aku selalu merasa senang berada di tempat karena di tempat ini aku bisa melihat luasnya lautan yang entah dimana ujungnya. Kami sangat menikmati temat ini dengan sangat baik. Setelah cukup lama menikmati keindahan tempat ini, kami meninggalan tempat ini dan melanjutkan perjalanan kami ke Bedugul. Di tempat ini kami akan menikmati pemandangan danau yang indah dan merasakan sejuknya udara pegunungan. Ketika berada di tempat ini aku merasa seperti sedang berada di Tondano,karena udara di tempat ini hamper sama dengan di Tondano. Ini bukan kali pertama aku datang ditempat ini. Aku sering mengunjungi tempat ini bersama keluargaku dulu ketika aku masih kecil.Ternyata tempat ini sudah banyak berubah dan itu membuatnya semakin indah.

Hari demi hari berlalu begitu cepat tanpa terasa besok adalah hari Natal. Karena semua keluarga ibuku beragama hindu maka di malam Natal ini aku dijemput omku untuk menginap di rumahnya dan merayakan Natal bersama keluarganya.
Kak Meril,Novinda,Tirsa
Di malam Natal Aku,Tirsa, dan ke dua anak omku yaitu Kak Meril dan Kak Mike Manangkot menghias pohon Natal dan berfoto-foto bersama. Kami terlihat sangat bahagia. Karena malam sudah larut malam kami pun tidur dan bersiap untuk menyambut Natal di esok hari.

Sabtu,25 Desember 2010. Kami pergi ke gereja bersama. Kam beribadah Natal di Gereja Maranatha, Denpasar. Karena sakin banyaknya orang yang datang ke gereja maka kami mendapatkan tempat duduk di luar gedung gereja. Suasana di gereja sangat sesak dan pengap tapi tetap tenang. Setelah selesai ibadah kami mengunjungi rumah saudara ayahku juga untuk mengucapkan selamat Natal sekaligus mengadakan acara makan-makan sederhana. Walaupun hanya sederhana tapi menjadi sangat berarti karena di tempat ini semua saudara-saudara ayahku yang merantau di Bali datang dan berkumpul bersama layaknya sebuah keluarga besar Manangkot. Suasana rumah menjadi sangat ramai dan menyenangkan. Karena sudah mulai sore kami berpamitan untuk pergi mengunjungi rumah saudara dari tanteku yang juga merayakan Natal. Di sana kami juga dihidangkan dengan makanan-makanan yang enak dan tanpa berpikir panjang kami pun langsung memakannya. Di sana aku di kenalkan dengan saudara-saudara tanteku dan mereka mengatakan bahwa aku itu cantik. Aku merasa sangat malu,karena aku tidak merasa seprti itu dan aku bisa tersenyum menanggapi perkataan mereka. Setelah Selesai berjalan-jalan kami pulang ke rumah dan beristirahat. Dan tak lupa juga aku menelpon ayah da ibuku untuk mengucapkan selamat natal dan menanyakan kabar mereka.

Minggu,26 Desember 2010. Hari Natal ke dua dan kami harus masuk gereja terpisah. Omku masuk gereja di gereja Maranatha karena dia harus melayani pelayanan baptisan karena dia adalah seorang Penatua. Sedangkan kak Mike akan masuk gereja bersama pacarnya. Maka aku,Tirsa,Kak Meril dan tanteku masuk geraja bersama di sebuah geraja yang jaraknya tak jauh dari rumah. Setelah pulang gereja kami berkumpul kembali di rumah omku dan kami kedatangan tamu hari ini.  Saudara tanteku yang kemarin kami kunjungi sekarang mengunjungi kami dan dia datang bersama anak sulungnya yang seumuran denganku. Kami berkenalan dan ternyata namanya Bagoes Fernando tapi biasa dipanggil Ebik. Dia adalah seorang atlit bulu tangkis dan itulah mengapa dia sangat tinggi. Kami berbincang-bincang dan entah kenapa aku merasa bahwa terus memandangiku. Tak lama kami berbincang-bincang,dia berpamitan karena dia ada jadwal latihan bulu tangkis hari itu. Aku dan Tirsa masuk ke kamar dan beristirahat karena besok kami sudah harus bekerja lagi. Ketika kami sedang berada di dalam kamar tiba-tiba handphoneku berbunyi dan ternyata aku mendapatkan pesan dari nomor yang tak ku kenal. Ternyata itu adalah nomor Ebik. Dia meminta nomorku dari Kak Meril. Dia mengatakan bahwa dia menyukaiku dan ingin bertemu denganku lagi. Aku hanya diam menanggapi apa yang dikatakannya. Terima Kasih telah menyukaiku.

Senin,27 Desember 2010. Kembali lagi kerutinitas kami seperti biasa. Kami pergi ke kantor dan melakukan pekerjaan kami seperti hari-hari sebelumnya.

Tanpa terasa tinggal beberapa minggu lagi kami harus menjalani pekerjaan kami ini karena pada tanggal 7 Januari kami diwajibkan untuk kembali ke Manado atau dengan kata lain kami telah menyelesaikan praktek kerja ini. Dan itu tandanya kami sudah harus menyusun laporan hasil praktek kami. Perasaan kami menjadi sedikit gundah menyadari hal ini. Kami senang akhirnya kami bisa kembali lagi ke Manado dan bertemu keluarga dan teman-teman kami tapi terselip juga perasaan sedih yang kami rasakan karena kami harus berpisah dengan kehidupan kami di sini dan segala kenangan indah yang telah ada. Ternyata tak hanya kami yang merasakan kesedihan ini, pegawai-pegawai kantor kami di Bali Tours yang merupakan keluarga baru  kami juga merasakan hal yang sama. Mereka mengatakan kepada kami untuk tetap tinggal di sini dan langsung bekerja di tempat ini. Tapi semua itu tidak mungkin bagi kami karena kami masih harus menyelesaikan sekolah kami dulu dan akhirnya kami berjanji kepada mereka bahwa akan segera kembali ke Bali setelah kami mendapatkan ijasah SMK kami.

Jumat,31 Desember 2010. Kami mengadakan pesta akhir tahun di kantor yang juga dirangkaikan dengan acara perpisahan kami. Kami sangat menikmati pesta ini dan merasa sangat bahagia. Kami saling bertukaran kado,bernyanyi bersama,bergoyang bersama,makan dan minum bersama. Semua anggaran pesta ini ditanggung oleh pemilik Bali Tours. Dan hari itu aku dan Tirsa mendapat hadiah yang banyak dari pegawai-pegawai kantor. Kami merasa sangat senang. Setelah pulang kantor kami jalan-jalan di pantai sanur yang jaraknya hanya 100 meter dari kantor kami dan di sani aku bertemu dengan Ebik. Kami berjalan-jalan di sekitar pantai sambil berbincang-bincang. Dia mengantarkanku pulang ke rumah dan kemudian dia mengajakku keluar lagi untuk jalan-jalan. Dia mengajakku makan malam di MagDonal yang tempatnya tak jauh dari rumahku. Dan saat itulah dia mengungkapkan perasaannya kepadaku dan dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku bingung harus menjawab apa,sebenarnya hatiku belum bisa menerimanya, tapi akhirnya aku menjawab ”iya” kepadanya. Aku ingin coba untuk menjalani dengannya. Dia kelihatan sangat senang. Dia menggenggam tanganku dan membawaku berjalan-jalan berkelilng kota Denpasar dengan sepeda motornya. Ku melewati malam pergantian tahun bersamanya dengan melihat pemandangan malam kota Denpasar dari atas motor.

Sabtu, 1 Januari 2011. Hari yang baru di tahun yang baru. Aku dan Tirsa pergi ke gereja untk beribadah.

Tanah Lot
Minggu, 2 Januari 2011. Hari ini aku dan Tirsa diajak jalan-jalan oleh tanteku (adik ibuku) bersama keluarga kecilnya dengan mengendarai sepeda motor. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Tanah Lot. Kali ini kami berkesempatan untuk membasuh tangan dan kami di air suci yang terletak di bawah Pura yang ada di tempat ini. Konon katanya air ini mempunyai kekuatan ajaib. Pasangan suami-istri yang belum dikaruniai anak jika meminumair ini dan berdoa di tempat ini sang istri bisa segera hamil dan mereka segera memiliki anak. Entah ini benar atau tidak tapi inilah kepercayaan orang-orang di tempat ini.

Monumen Bom Bali 1
 Ada juga mitos yang dipercayai oleh orang-orang di Bali bahwa mereka yang sedang berpacaran atau belum terikat dengan pernikahan tidak boleh datang di tempat ini karena katanya hubungan mereka akan putus dan tidak akan direstui. Entah itu benar atau tidak tapi kenyataannya itulah yang mereka percayai. Saat kami berada di tempat ini ada kejadian yang aneh juga lucu yang kami alami. Ketika aku dan Tirsa sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ada sekelompok laki-laki yang mendekati kami dan mereka berebut untuk meminta berfoto dengan kami. Mereka berasal adalah grup pelajar dari Palembang yang sedang liburan di Bali. Kami kanget dan berusaha menghindar,tapi mereka terus mengejar kami. Ternyata mereka mengira kami ini adalah artis. Apakah wajah kami mirip artis? Karena merasa tidak enak kami pun memenuhi keinginan mereka untuk berfoto. Dan setelah itu akhirnya mereka pun pergi. Kami sudah cukup puas berjalan-jalan di Tanah Lot dan menikmati keindahan alamnya,maka kami pun meninggalkan tempat ini dan menuju ke Garuda Wisnu Kencana. Namun sebelumnya kami mampir ke sebuah warung makan di pinggir jalan untuk makan siang. Aku memesan makanan favoritku ketika aku berada di Bali yaitu Babi Guling kalau dalam bahasa Manado mereka menyebutnya Babi Putar. Tapi Babi Guling Bali dan Babi Putar Manado sangatlah berbeda dan aku lebih menyukai Babi Guling Bali karena kalau di Manado aku sama sekali tidak bisa memakan Babi Putar Manado. Aku menghabiskan semua makananku dengan cepat. Setelah selesai makan kami kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan menuju Garuda Wisnu Kencana kami melewati Tugu peringatan peristiwa bom Bali 1 di daerah Kuta. Sebuah peristiwa yang sangat mengguncang Indonesia bahkan dunia saat itu,karena ada begitu banyak korban yang meninggal dunia di tempat ini dan nama-nama mereka tercantum dalam tugu peringatan ini. Kami pun berhenti sejenak di tempat ini dan mengambil beberapa foto. Kami melanjutkan perjalanan kami kembali dan akhirnya kami tiba di Garuda Wisnu Kencana.
Patung Dewa Wisnu
Tempat ini awalnya adalah tempat yang dimiliki oleh salah satu orang terkenal di negeri ini yang merupakan anak dari mantan preseiden Suharto yaitu Tommy Suharto. Tapi semenjak Presiden Suharto tidak berjaya lagi maka pembangunan tempat ini menjadi macet dan akhirnya di ambil alih oleh Pemerintah setempat. Di tempat ini anda bisa melihat patung burung garuda yang sangat besar dan juga patung dewa Wisnu yang terbuat dari perunggu. Tapi sampai saat ini pekerjaan ke dua patung ini belum juga selesai. Tempat ini juga memiliki lahan yang sangat besar dan luas,juga di tempat ini sering dilaksanakan pertunjukan-pertunjukan tari-tarian dan kebudayaan khas Bali lainnya. Dan karena hari telah sore maka kami pun harus segera pulang dan mengakhiri perjalanan kami hari ini. Sungguh menyenangkan.






Senin, 3 Januari 2011. Hari terakhir kami di kantor. Dan kami mendapatkan tugas di luar kantor. Kami bersama pegawai-pegawai kantor lainnya mengadakan kunjungan kerja mendadak ke hotel-hotel di daerah Ubud yang menjadi mitra kantor kami. Ada beberapa hotel yang kami kunjungi. Di hotel-hotel ini kami memeriksa segala macam fasilitas-fasilitas yang disediakan di hotel ini mulai dari kondisi kamar, kolam renang dan masih banyak yang lainnya. Kami di sambut dengan begitu ramah dengan para pegawai hotel-hotel ini. Dan perjalanan kerja kami di hari terakhir kami ini sangat menyenangkan. Dan terima kasih untuk semuanya.


Selasa, 4  Januari 2011. Hari ini aku,Tirsa,Ebik dan Decky menikmati hari kami untuk jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman kami di Manado. Kami mengelilingi kota Denpasar lagi untuk berburu oleh-oleh. Dan setelah kami menemukan semua yang kami cari kami pun kembali ke rumah dan segera mengemasi barang-barang kami karena besok sore kami akan kembali ke Manado.

Rabu, 5 Januari 2011. Ebik datang ke rumah untuk bertemu denganku untuk yang terakhir kali. Dia mengatakan dia tak bisa mengantarku ke bandara karena dia ada pertandingan bulu tangkis sore itu. Dia memberikanku kalungnya dan memintaku untuk selalu menggunakannya. Terima Kasih Ebik. Kami pun berangkat menuju ke bandara. Sesampainya di bandara aku berpamitan dengan tanteku dan saudara-saudaraku lainnya. Aku mencari pekak untuk berpamitan tapi aku tak bisa menemukannya karena katanya dia sedang memarkirkan mobil. Aku ingin menunggunya tapi aku sudah harus masuk ke dalam untuk segera check in. Akhirnya aku masuk tanpa berpamitan dengan pekak. Aku dan Tirsa masuk ke dalam bandara. Kami di antar oleh seorang pegawai kantor kami yang bertugas di bandara (Kak Teja Semara). Dan ketika pengecekan bagasi ternyata bagasi kami melebihi ketentuan yang di tetapkan maka kami pun harus membayarnya. Yang harus kami bayar adalah Rp. 400.000 tapi karena ada Kak Teja kami mendapatkan keringanan biaya, dan kami hanya harus membayar Rp. 200.000. Kami pun berpindah ke tempat pembayaran Airport tax, dan aku sudah tidak mempunyai uang lagi. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya kak Teja menolongku dengan membayarkan uang airport taxku. Aku sangat bersyukur dan sangat berterima kasih kepadanya. Kami pun segera masuk ke dalam pesawat. Di pesawat kami bersebelahan tempat duduk dengan seorang ibu yang juga asal Manado. Kami berbincang-bincang dengannya selama penerbangan ini. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam kami pun tiba di bandara Hasadudin Makasar. Di sini aku dan Tirsa harus berpisah,karena aku harus melanjutkan perjalanan ke Manado sedangkan Tirsa harus melanjutkan perjalanan ke Ternate untuk bertemu dengan kakaknya. Dan saat itu aku merasa sangat kelaparan karena memang dari pagi aku belum makan apapun juga. Aku ingin membeli makanan tapi aku tidak punya uang. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk bisa menguatkan aku sampai aku bisa tiba di Manado dengan selamat. Dan ternyata Tuhan menolongku melalui seorang ibu yang duduk bersebelahan denganku di pesawat. Ibu ini mengajakku untuk makan bersamanya di sebuah restaurant yang ada di bandara. Terima kasih Tuhan. Kami pun makan bersama dan setelah 30 menit waktu berlalu, kami pun segera masuk kembali ke dalam pesawat karena sudah waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Manado. Dan sekitar jam 10 malam kami pun tiba di bandara Sam Ratulangi Manado dengan selamat. Terima Kasih Tuhan.


[1] Embah : sebutan untuk Oma atau nenek
[2] Pekak : sebutan untuk Opa atau kakek
[3] Renon : nama sebuah daerah di Bali
[4]Ubud : sebuah kecamatan di Bali dan disinilah ibuku berasal.
[5] Dadong : sebutan untuk oma dalam bahasa Bali
[6] Pura : tempat ibadah umat Hindu
[7] Mangku : sebutan untuk pemuka agama Hindu
[8] Wak Laki : panggilan untuk kakak laki-laki dari ayah/ibu
[9] Wak cewek : panggilan untuk kakak perempuan dari ayah/ibu
[10] Tebongkang : nama banjar yang ada di Ubud
[11] Tanah Lot : Pulau kecil yang terapung di lautan (Tanah lot merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di Bali)
[12] Ngaben : Upacara adat pembakaran mayat di Bali
[13] Puri : Tempat tinggi keluarga Raja di Bali

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking