oleh
Novinda Frandiani Manangkot
Kabut
hitam menyelimuti malam di hari yang pertama di bulan yang ke enam ini
Seperti
halnya kabut hitam menyelimuti malam ini,
Ada kabut
hitam juga yang menyelimuti hatiku mala mini
Kabut itu
menjelma menjadi sebuah rasa rakut yang pertama kalinya ku rasakan
Aku takut
kabut itu
Aku benci
kabut itu
Aku ingin
mengusir kabut itu
“Pergilah
dan jangan pernah kembali”
Aku benci
mendengar perkataan kabut itu,”Kamu bukan apa-apa di dunia ini, Kamu tidak ada
artinya untuk siapa-siapa, Kamu tidak akan di terima oleh keluarganya, Kamu tak
pantas disayangi, Mereka lebih menyukai orang lain bukan kamu.’’
“Pergi,
dan jangan pernah kembali.’’
“Kamu
bukan apa-apa,kamu tidak memiliki apa-apa, tak ada yang menyayingimu,kamu akan
menangis selamanya,kamu akan selalu ditinggalkan.”
“Hahahaha,
kamu bodoh dan tak punya apa-apa.”
“Pergi,
Aku tak mau mendengarkanmu.”
Kabut itu
mengubah terang menjadi gelap
Dia
menutupi keceriaan,keyakinan dan semangat yang sedang bersinar
Dia
membuat air terus mengalir membanjiri bumi
Dia menutupi
sesuatu yang besar
Aku benci
kabut,karena aku takut mereka tak bisa melihatku dengan jelas….
01062013
08.42 P.M
14
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking