oleh
Novinda Frandiani Manangkot
Pagi yang memancarkan keindahannya menyambut jiwa-jiwa yang terbuai
dengan indahnya mimpi
Burung-burung mulai saling menyapa satu dengan yang lain
Suara mereka terdengar begitu indah seakan memberikan semangat bagi
jiwa-jiwa yang masih tertidur untuk bangkit dan segera berjalan mengikuti dunia
yang penuh dengan kepalsuan
Langkah-langkah kaki mulai menghiasi bumi itu pertanda bahwa bumi telah
bangun dari tidur malamnya
Harapan pun mulai menampakkan dirinya lagi membuat penghuni lainnya
kembali bergantung padanya
Harapan bagaikan seorang peri yang akan mengabulkan apa yang diinginkan
Matahari mulai memancarkan cahayanya dan memberi kehangatan bagi para
penghuni bumi
Mereka senang menyambut kedatangan matahari
Begitu pun dengan seekor ulat bulu kecil yang dengan penuh harapan
menyambut kehangatan matahari
“Apakah sudah selesai ?”
“Apakah sesuai dengan harapan ?”
Dengan semangat yang sangat bergelora ulat bulu kecil mulai membawa tubuh
kecilnya menuju tempat yang dituju
Ternyata harapan adalah seorang pembohong besar yang hanya bisa
memberikan janji
Wajah yang awalnya penuh keceriaan berubah menjadi murung
Ulat bulu kecil kembali ke tempat seharusnya dia berada dan tak mau lagi
bersahabat dengan harapan bahkan matahari
Dan lagi tak ada yang bisa diandalkan dengan dunia yang penuh kebohongan
dan kesakitan
Dunia yang selalu menampakkan keindahan dan kehangatannya yang ternyata
semuanya adalah ilusi
Dunia yang dipenuhi penghuni-penghuni kejam yang bisa saling memakan
sesamanya
Dunia yang selalu menawarkan kesenangan-kesenangan yang semuanya hanya
akan mendatangkan kesakitan
Dunia yang selalu dilindungi sang matahari, sang bulan,dan sang bintang
Yang selalu memberi ketakutan bagi sang ulat bulu kecil

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking