Danau Bedugul, Bali

Danau Bedugul, Bali
Tirsa Moningka(kiri) Novinda Manangkot(kanan)

01 Julie 2013

Hujan dan Kabut

Oleh
Novinda Frandiani Manangkot



Remaja & Pembina Remaja GMIM Eben Haezer Wulauan

Hujan kembali turun di siang ini
Membasahi semua yang kering
Mengiringi kesedihan
Menghalangi semua yang ingin bergerak
Menunda keberhasilan
Semakin menjauhkan kebahagian bagi orang-orang yang merindukan hangatnya matahari
Kabutpun seakan-akan menjadi belahan jiwa hujan
Dia juga menutupi masa depan
Menutupi semua yang dianggapnya terlalu besar dan kokoh
Harapan pun seakan beranjak pergi dari orang-orang yang sangat membutuhkannya
Mengapa selalu ada penguasa yang sejahat ini ?
Apakah keadilan dan keberhasilan hanya sebuah imajinasi ?
Adakah pelangi sehabis hujan ?
Atau itu juga adalah imajinasi ?
Berhakkah kau hujan merampas kebahagiaan seekor ulat bulu kecil yang sedang berusaha mencapai pepohonan hijau untuk memenuhi hasrat perut kecilnya?
Apakah kami hanya dianggap sebagai budak yang tak bisa menentang tuannya?
Sudah kenyangkah kalian memakan semua daun-daun biru itu ?
Pada akhirnya kabut membuat ulat bulu kecil tak bisa terlihat lagi
Dan hujan perlahan menghapus jejak ulat bulu kecil

14
2-7-13 _ 01.57 p.m

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking