Danau Bedugul, Bali

Danau Bedugul, Bali
Tirsa Moningka(kiri) Novinda Manangkot(kanan)

21 Julie 2013

MARXIS



untuk Marxis Ajinbu
oleh 
Novinda Frandiani Manangkot
                                                      


Wajah mungil yang begitu memikat
Jejak-jejak kaki yang begitu menggemaskan
Membuat semua orang menyukaimu
Tingkahmu yang sangat lucu dan nakal
Takkan pernah bisa kulupakan
Saat kita tidur bersama
Saat kita makan bersama
Saat kita jalan-jalan bersama
Saat kita bermain bersama
Saat aku memandikanmu
Tangisan kecilmu yang menahan dinginnya air saat itu membuatku merasa bahagia
Aku selalu ingin mengulanginya lagi
Gigitan-gigitan yang selalu kau arahkan kepadaku
Tak bisa kuhindari dan kuhentikan
Aku marah tapi tak benar-benar marah
Aku tak bisa memarahi bahkan memukulmu karena wajahmu yang sangat mempesona
Kau yang selalu setia menungguku pulang dari kampus
Menyambutku dengan lompatan-lompatan kecil yang penuh dengan keceriaan
Yang selalu membuatku merindukanmu dan ingin memelukmu
Kau yang selalu menggangguku di setiap waktu
Menggangguku ketika aku tidur
Menggigit telinga dan kepalaku
Membuatku terbangun dari bunga tidur yang telah memperdayakanku
Mengajakku bermain di tengah heningnya malam
Membangunkanku ketika fajar menyingsing
Kau yang selalu marah ketika aku terlambat memberimu makan
Menggonggong tanpa henti ketika kau melihat orang sedang makan
Menggigit ketika orang memarahimu
Anjing kecilku yang lucu aku menyayangimu
Ketika aku melihatmu sakit
Aku berusaha merawatmu melakuan yang terbaik yang bisa kulakukan
“Kumohon jangan sakit,sembuhlah. Jadilah anjing yang ceria lagi.”
“Marxis,marxis,marxis,sini. Makang ne Ajinbu, cepat sembuh ne.”
Dia hanya diam dan beranjak pergi
“Marxis!”
 Dia menoleh dan menatapku dengan tatapan yang begitu menyedihkan dan melangkah kembali
Hatiku berteriak, “ Tuhan, tolong sembuhkan anjingku. “
Dia tak pernah muncul lagi setelah itu
Aku merindukannya
Aku mencarinya ke mana-mana
Tapi aku tak bisa menemukannya
“ Marxis, Marxis, Marxis, sini sayang, Yubu sayng Marxis. “
Hujan mulai turun kembali membasahi bumi yang kering ini dan aku belum bisa menemukannya.
Aku tak mau dia kehujanan
Aku tak mau dia kedinginan
Dia belum makan dan tak mau makan
Aku menunggu berharap dia segera kembali
Langkah kaki yang taka sing terdengar mendekati kamar
Kluk,kluk,kluk,kluk,kluk
“Marxis! Sini saying masuk.”
Dia melangkah masuk dan merebahkan badannya di lantai
Hatiku senang, dia kembali
Terima kasih Tuhan
Sang mentari pagi mulai menampakkan wajahnya lagi itu berarti hari yang baru telah datang
Dia beranjak keluar dari kamar dan kembali pergi
Dia tak mau menoleh lagi ketika orang memanggilnya
Apakah itu cara dia mengucapkan salam perpisahannya ?
Dia pergi dan tak pernah kembali lagi
Aku kehilangan dia seekor anjing yang takkan pernah bisa kutemukan lagi…  

14

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking