oleh
Novinda Frandiani Manangkot
Hari itu adalah hari terakhir di bulan yang
ke-7 di tahun 2013. Matahari membangunkanku dengan sinarnya. Hari ini aku akan
menemaninya pergi ke tempat yang dijuluki kampus ungu, tempat di mana aku dan
dia bertemu. Aku berusaha berdandan secantik mungkin untuk hari ini aku tak tau
kenapa tapi itulah yang hatiku inginkan. Dia pergi ke tempat itu lebih dulu
karena saat itu sudah banyak orang-orang yang sedang dalam masa pembodohan menunggunya
untuk mendengarkan lantunan kata-kata dari mulutnya. Aku bergegas untuk
menyusulnya dengan hati yang gembira dan penuh semangat. “Terima Kasih Tuhan,
akhirnya setelah 7 tahun dia terkurung di tempat ini besok dia akan berjuang
melangkah keluar dari tempat ini.” Aku tiba di tempat itu tapi aku tak bisa
menemukannya. Aku mencoba menghubunginya dan dia mengatakan untuk menunggunya
di tempat dimana aku berdiri saat itu dia akan segera menemuiku. Dia datang
tapi dia hampir tak mengenaliku karena penampilanku yang sedikit berbeda hari
itu. Dia terlihat sibuk tapi bersemangat saat itu aku senang melihatnya. Aku
menemaninya mempersiapkan segela sesuatu untuk ujiannya besok. Tapi ternyata
tak selamanya batu karang itu akan tetap berdiri kokoh say diterjang ombak
terkadang ombak memang bisa menggoyahkan batu karang. Langit biru yang awalnya
menghiasai hari itu berubah menjadi langit gelap yang penuh akan
ketidakpastian. Apakah hujan akan segera turun
ataukah dia akan segera hilang ditiu angin? Aku terus memandangi
wajahnya di ruangan itu dan aku tahu satu hal dia akan menyerah sampai di sini.
Hatiku berteriak,”Tolong jangan buat dia menyerah dengan kata-kata itu dan
dengan amplop putih itu.” Dia diam mendengarkan apa yang dikatakan mereka
kepadanya sambil kerap kali dia menoleh kepadanya seakan dia ingin mengatakan
kepadanya untuk segera meninggalkan tempat itu. Aku selalu membalasnya dengan
tersenyum tapi taka da senyuman di wajahnya saat itu yang kulihat hanyalah
deraian keringat yang mengucur deras di kepalanya. Mereka menyuruhnya untuk ini
dan itu dia kelihatan mematuhinya tapi sebenarnya dia hanya berpura-pura
mematuhinya. Dia menarikku keluar dari ruangannya itu dan berkata,”Minjo
pulang, qta nda mo datang besok.” Aku membalas perkataanya dan mencoba untuk
menyakinkan dia,”Qapa bu ? Qapa re nda mo datang besok so ada SK kurang mo
ujian kong nda mo datang ?” Dia menjawabku : “ Biongo ngana,ada re doi mo se
jalan tu undangan deng mo isi tu amplod belum lagi mo isi tu amplop,qta nda mo
datang besok,biar jo dorang jadi gila,smo brenti qta.” Mendengar jawabannya itu
aku hanya terdiam karena akupun tak bisa membantunya,aku tak punya uang. Aku
berusaha menenangkannya aku menggenggam erat tangannya karena hanya itulah yang
bisa kulakukan saat itu. Batu karang adalah batu yang kuat,bagaimana mungkin
seekor ulat bulu kecil bisa membuatnya menjadi batu karang yang lembut? Dia
mengajakku makan di tempat dimana kami biasa makan ditempat dimana kami meminta
sepiring nasi disaat kami tak mempunyai uang. Kios Om Edi itulah tempatnya.
Kami berjalan berdua melewati segerombolan orang-orang yang menyebut diri
mereka sebagai mahasiswa dengan senyuman. Sepanjang jalan hanya 1 kalimat yang
keluar dari mulutnya,”Biongo so betul kwa dari tuhari qta da brenti,qapa ley
qta da pgi menampakkan diri so betul qta da kerja dari tuhari.” Sebuah kalimat
penyesalan yang bagiku sudah bisa menggambarkan bagaimana kekecewaan yang dia
rasakan saat itu. Kami tiba di kios itu dan memesan makanan. Dia menatapku dan
berkata,” Dapa lia cantik yubu da beking bagitu tu rambut.” Aku hanya tersenyum
dan tersipu malu mendengar dia mengucapkan kalimat itu. Setelah makan dia
mengajakku pergi ke kota bunga Tomohon untuk menemaninya membeli sebuah
pengeras suara yang sekarang manusia modern menyebutnya sebagai speaker. Dia
memang sudah lama ingin membelinya. Aku mengikuti keinginannya untuk pergi ke
Tomohon dengan harapan bisa menenangkan hatinya dan membuat dia merasa lebih
baik. Aku tahu dia sedang mengalami masa yang sulit dan hari ini juga
mengecewakan untuknya. Dia yang tadinya berangkat dari rumah menuju ke tempat
itu dengan wajah yang ceria dan penuh semangat kini ini pulang ke rumah dengan
wajah yang penuh kekecewaan. Aku mencoba membuatnya tertawa untuk menghiburnya
tapi meskipun dia tertawa aku tahu dia terpaksa melakukannya agar tak membuatku
sedih. Aku berdoa sepanjang malam semoga dia masih bisa mengikuti ujiannya
besok dan kekarasan hatinya juga bisa berubah.
Hari yang pertama di bulan yang ke-8 di
tahun 2013. Sebenarnya ini adalah hari yang aku tunggu hari dimana aku bisa
melihat orang yang aku sayangi berjuang untuk mendapatkan toga itu. Tapi itu
semua mungkin hanya akan menjadi sebuah khayalanku saja. Tak ada yang berubah
dari dirinya dia tetap mengeraskan hatinya. Dia tetap membaringkan tubuhnya di
atas kasur usang itu seakan-akan dia hanya ingin tidur sepanjang hari. Aku tahu
dia ingin hari ini cepat berlalu. Dia mematikan handphonenya dia tak ingin
diganggu oleh orang-orang itu. Handphoneku berbunyi aku mendapatkan telepon
dari nomor yang tidak ku kenal tapi aku tidak benar-benar tidak mengenali nomor
itu rasanya aku mengenalinya tapi nomor siapa ini? Aku mencoba mengangkatnya
dan ternyata itu adalah nomor dari temannya yang hari ini dijadwalkan untuk
mengikuti ujian bersamanya dan suara yang berbicara di sana adalah suara
dosennya yang menanyakan tentang keberadaanya. Dia menyuruhku untuk mengakhiri
panggilan itu dia tak ingin berbicara dengan mereka. Dia menyuruhku berbohong
mengatakan kepada mereka bahwa dia tak bersamaku agar mereka tak akan
menghubungiku lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku bingung,aku gugup,aku tak tahu
apa yang harus kelakukan untuknya. Dosen itu mengatakan kepadaku untuk
memberitahu dia bahwa mereka sedang menunggunya di tempat itu. Aku hanya bisa
mengatakan aku akan mencoba untuk membujuk dia aku tak bisa menjanjikan
apa-apa. Apa yang harus aku lakukan? Aku memberanikan diri untuk membujuknya
tapi dia marah dan berkata, “ Ngana jo tu pgi k asana.” Aku tahu ulat bulu
takkan pernah bisa mengubah hati batu karang itu. Aku gagal itulah
kenyataannya. Aku ingin meminta maaf kepada mereka karena aku telah berbohong
kepada mereka dan ingin menjelaskan semuanya kepada mereka tapi aku tak punya
keberanian untuk melihat muka para dosen itu. Maaf. Aku kembali mendekatinya
dan berusaha untuk berbicara dengannya. Dia mengatakan dia tak akan meneruskan
kuliahnya lagi dan dia akan mencoba untuk mencari pekerjaan dan akan membantuku
untuk kuliah. Aku tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakannya. Aku tahu
sulit baginya untuk membuat keputusan itu aku berusaha untuk mengahargai
keputusannya dan memahami hatinya. Walaupun ulat bulu tak berhasil mengubah
hati batu karang tapi ia tak ingin menjadi musuh sang batu karang ia ingin
menjadi sahabat sang batu karang yang berusaha untuk selalu ada di sisi batu
karang kapanpun dan dimanapun karena ulat bulu kecil mencintai sang batu
karang.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking