Danau Bedugul, Bali

Danau Bedugul, Bali
Tirsa Moningka(kiri) Novinda Manangkot(kanan)

10 Augustus 2013

Sebuah Cerita Pendek

oleh
Novinda Frandiani Manangkot






Hari itu adalah hari terakhir di bulan yang ke-7 di tahun 2013. Matahari membangunkanku dengan sinarnya. Hari ini aku akan menemaninya pergi ke tempat yang dijuluki kampus ungu, tempat di mana aku dan dia bertemu. Aku berusaha berdandan secantik mungkin untuk hari ini aku tak tau kenapa tapi itulah yang hatiku inginkan. Dia pergi ke tempat itu lebih dulu karena saat itu sudah banyak orang-orang yang sedang dalam masa pembodohan menunggunya untuk mendengarkan lantunan kata-kata dari mulutnya. Aku bergegas untuk menyusulnya dengan hati yang gembira dan penuh semangat. “Terima Kasih Tuhan, akhirnya setelah 7 tahun dia terkurung di tempat ini besok dia akan berjuang melangkah keluar dari tempat ini.” Aku tiba di tempat itu tapi aku tak bisa menemukannya. Aku mencoba menghubunginya dan dia mengatakan untuk menunggunya di tempat dimana aku berdiri saat itu dia akan segera menemuiku. Dia datang tapi dia hampir tak mengenaliku karena penampilanku yang sedikit berbeda hari itu. Dia terlihat sibuk tapi bersemangat saat itu aku senang melihatnya. Aku menemaninya mempersiapkan segela sesuatu untuk ujiannya besok. Tapi ternyata tak selamanya batu karang itu akan tetap berdiri kokoh say diterjang ombak terkadang ombak memang bisa menggoyahkan batu karang. Langit biru yang awalnya menghiasai hari itu berubah menjadi langit gelap yang penuh akan ketidakpastian. Apakah hujan akan segera turun  ataukah dia akan segera hilang ditiu angin? Aku terus memandangi wajahnya di ruangan itu dan aku tahu satu hal dia akan menyerah sampai di sini. Hatiku berteriak,”Tolong jangan buat dia menyerah dengan kata-kata itu dan dengan amplop putih itu.” Dia diam mendengarkan apa yang dikatakan mereka kepadanya sambil kerap kali dia menoleh kepadanya seakan dia ingin mengatakan kepadanya untuk segera meninggalkan tempat itu. Aku selalu membalasnya dengan tersenyum tapi taka da senyuman di wajahnya saat itu yang kulihat hanyalah deraian keringat yang mengucur deras di kepalanya. Mereka menyuruhnya untuk ini dan itu dia kelihatan mematuhinya tapi sebenarnya dia hanya berpura-pura mematuhinya. Dia menarikku keluar dari ruangannya itu dan berkata,”Minjo pulang, qta nda mo datang besok.” Aku membalas perkataanya dan mencoba untuk menyakinkan dia,”Qapa bu ? Qapa re nda mo datang besok so ada SK kurang mo ujian kong nda mo datang ?” Dia menjawabku : “ Biongo ngana,ada re doi mo se jalan tu undangan deng mo isi tu amplod belum lagi mo isi tu amplop,qta nda mo datang besok,biar jo dorang jadi gila,smo brenti qta.” Mendengar jawabannya itu aku hanya terdiam karena akupun tak bisa membantunya,aku tak punya uang. Aku berusaha menenangkannya aku menggenggam erat tangannya karena hanya itulah yang bisa kulakukan saat itu. Batu karang adalah batu yang kuat,bagaimana mungkin seekor ulat bulu kecil bisa membuatnya menjadi batu karang yang lembut? Dia mengajakku makan di tempat dimana kami biasa makan ditempat dimana kami meminta sepiring nasi disaat kami tak mempunyai uang. Kios Om Edi itulah tempatnya. Kami berjalan berdua melewati segerombolan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai mahasiswa dengan senyuman. Sepanjang jalan hanya 1 kalimat yang keluar dari mulutnya,”Biongo so betul kwa dari tuhari qta da brenti,qapa ley qta da pgi menampakkan diri so betul qta da kerja dari tuhari.” Sebuah kalimat penyesalan yang bagiku sudah bisa menggambarkan bagaimana kekecewaan yang dia rasakan saat itu. Kami tiba di kios itu dan memesan makanan. Dia menatapku dan berkata,” Dapa lia cantik yubu da beking bagitu tu rambut.” Aku hanya tersenyum dan tersipu malu mendengar dia mengucapkan kalimat itu. Setelah makan dia mengajakku pergi ke kota bunga Tomohon untuk menemaninya membeli sebuah pengeras suara yang sekarang manusia modern menyebutnya sebagai speaker. Dia memang sudah lama ingin membelinya. Aku mengikuti keinginannya untuk pergi ke Tomohon dengan harapan bisa menenangkan hatinya dan membuat dia merasa lebih baik. Aku tahu dia sedang mengalami masa yang sulit dan hari ini juga mengecewakan untuknya. Dia yang tadinya berangkat dari rumah menuju ke tempat itu dengan wajah yang ceria dan penuh semangat kini ini pulang ke rumah dengan wajah yang penuh kekecewaan. Aku mencoba membuatnya tertawa untuk menghiburnya tapi meskipun dia tertawa aku tahu dia terpaksa melakukannya agar tak membuatku sedih. Aku berdoa sepanjang malam semoga dia masih bisa mengikuti ujiannya besok dan kekarasan hatinya juga bisa berubah.
Hari yang pertama di bulan yang ke-8 di tahun 2013. Sebenarnya ini adalah hari yang aku tunggu hari dimana aku bisa melihat orang yang aku sayangi berjuang untuk mendapatkan toga itu. Tapi itu semua mungkin hanya akan menjadi sebuah khayalanku saja. Tak ada yang berubah dari dirinya dia tetap mengeraskan hatinya. Dia tetap membaringkan tubuhnya di atas kasur usang itu seakan-akan dia hanya ingin tidur sepanjang hari. Aku tahu dia ingin hari ini cepat berlalu. Dia mematikan handphonenya dia tak ingin diganggu oleh orang-orang itu. Handphoneku berbunyi aku mendapatkan telepon dari nomor yang tidak ku kenal tapi aku tidak benar-benar tidak mengenali nomor itu rasanya aku mengenalinya tapi nomor siapa ini? Aku mencoba mengangkatnya dan ternyata itu adalah nomor dari temannya yang hari ini dijadwalkan untuk mengikuti ujian bersamanya dan suara yang berbicara di sana adalah suara dosennya yang menanyakan tentang keberadaanya. Dia menyuruhku untuk mengakhiri panggilan itu dia tak ingin berbicara dengan mereka. Dia menyuruhku berbohong mengatakan kepada mereka bahwa dia tak bersamaku agar mereka tak akan menghubungiku lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku bingung,aku gugup,aku tak tahu apa yang harus kelakukan untuknya. Dosen itu mengatakan kepadaku untuk memberitahu dia bahwa mereka sedang menunggunya di tempat itu. Aku hanya bisa mengatakan aku akan mencoba untuk membujuk dia aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Apa yang harus aku lakukan? Aku memberanikan diri untuk membujuknya tapi dia marah dan berkata, “ Ngana jo tu pgi k asana.” Aku tahu ulat bulu takkan pernah bisa mengubah hati batu karang itu. Aku gagal itulah kenyataannya. Aku ingin meminta maaf kepada mereka karena aku telah berbohong kepada mereka dan ingin menjelaskan semuanya kepada mereka tapi aku tak punya keberanian untuk melihat muka para dosen itu. Maaf. Aku kembali mendekatinya dan berusaha untuk berbicara dengannya. Dia mengatakan dia tak akan meneruskan kuliahnya lagi dan dia akan mencoba untuk mencari pekerjaan dan akan membantuku untuk kuliah. Aku tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakannya. Aku tahu sulit baginya untuk membuat keputusan itu aku berusaha untuk mengahargai keputusannya dan memahami hatinya. Walaupun ulat bulu tak berhasil mengubah hati batu karang tapi ia tak ingin menjadi musuh sang batu karang ia ingin menjadi sahabat sang batu karang yang berusaha untuk selalu ada di sisi batu karang kapanpun dan dimanapun karena ulat bulu kecil mencintai sang batu karang.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking