Danau Bedugul, Bali

Danau Bedugul, Bali
Tirsa Moningka(kiri) Novinda Manangkot(kanan)

07 Januarie 2015

It's life



oleh
Novinda Frandiani Manangkot





Ada waktu tuk berduka
dan
Ada waktu tuk bersuka
Ada waktu tuk menangis
juga
Ada waktu tuk tertawa
Ada waktu tuk tidur
Ada juga waktu tuk bangun
Ada waktu tuk berkata
Dan tentu ada waktu tuk diam
Ada waktu tuk memiliki
Juga ada waktu tuk kehilangan
It’s life
Roda kehidupan terus berputar
Dan sekarang roda kehidupanku sedang berada di bawah
Aku banyak merasakan kehilangan
Aku banyak menangis
Aku banyak disakiti
Aku banyak diam
But One day
I believe everything will change
Sekarang aku banyak membuat mereka menangis
Tapi aku janji suatu hari nanti aku pasti bisa membuat mereka bahagia
Langit mungkin bisa menjadi gelap
Tapi
Cahaya pasti akan selalu bisa menembus kegelapan itu
Hati yang terluka pasti akan sembuh
Suara yang hilang pasti akan kembali
Cinta yang tak terlihat pasti akan muncul dan bersemi
Lihatlah kejujuran dari mata seseorang
Maka cinta itu akan bisa dirasakan
Apakah cinta bisa mengalahkan segala perbedaan yang ada?
Status, harta, jabatan,umur?
Waktulah yang akan menjawabnya
It’s life
It’s a story
Just do the best
And Jesus will give you the best

Sebuah Kisah :-D


oleh 
                                            Novinda Frandiani Manangkot

 
Matahari mulai meredupkan cahayanya hari itu. Dia ingin segera kembali ke tempat tidurnya. Dia lelah menyinari dunia yang begitu sibuk ini yang tak pernah menyapanya. Kegelapan pun mulai menyerang dunia ini, tapi aku dan sahabatku masih melangkahkan kaki kami. Kegelisahan hati yang mengantarkan kami saat itu untuk pergi ke sebuah mesin uang kecil di kantor yang asing itu. Kami memasukkan kartu segi empat itu ke dalamnya dengan harapan uanglah yang akan kami dapatkan. Kami bukan orang munafik. Kami sangat membutuhkan uang. Tapi kartu segi empat itu keluar lagi dan mesin kecil itu berkata,” Maaf saldo anda tidak cukup”. Kami menarik kartu segi empat itu dari mesin uang itu. Kami kecewa, tapi tak putus asa. Kami mencoba pergi ke tempat asing lain di gedung besar lainnya. Kami bertemu dengan dua pria yang menyambut kami dengan ramah. Kami mengatakan segala keluh kesah kami kepada mereka dan dengan tenang  mereka mendengarkan kami. Salah seorang dari pria itu membuka computer hitam di sampingnya dengan maksud untuk mengecek apakah nama kami masih terdaftar dalam Surat Keputusan itu. Aku tiba-tiba merasa gugup dan takut saat itu. Dan apa yang kutakutkan ternyata itulah yang terjadi. Namaku tidak terdaftar lagi di surat itu. Jantungku berdebar sangat kencang, dan aku bertanya kepada mereka kenapa namaku tidak ada dalam surat itu? Pria itu  menjawab,” dari data yang torang da dapa ngana pe nama da tulis tidak aktif”. Dengan spontan aku pun membantah perkataan pria itu,”Nyanda kak, kita masih aktif sampe sekarang”. Dia menjawabku lagi, “ torang trima data bagitu jadi torang input bagitu, co tanya pa ngana pe fakultas”.
Dengan pikiran yang buyar dan hati yang sedih aku pun beranjak dari tempat itu dan berlari menuju gedung tiga lantai itu. Aku mencari pertolongan di gedung itu, tapi hanya ruangan kosong yang kutemui di tempat itu. Dadaku terasa sangat sesak ketika ku menuruni tangga-tangga itu. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri dan aku tak hentinya mengucapkan kalimat ini,” Dalam Nama Tuhan Yesus”. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan saat itu. Aku terus berjalan menuju sebuah gedung berwarna putih dan biru, gedung yang selalu aku jumpai setiap hari. Di depan gedung itu dua sahabatku telah menungguku. Mereka memanggilku dan bertanya,” Kiapa ngana? Kiapa sampe bagitu?”. Aku diam karena aku tak sanggup menjawab pertanyaan mereka. Mereka memelukku dengan penuh kehangatan dan tanpa sadar aku menangis dalam pelukkan mereka. Hatiku terasa sangat sakit dan air mataku tak mau berhenti mengalir. Aku mencoba menahannya tapi aku tak bisa. Mereka tetap memelukku, mereka mencoba menenangkanku dan menghapus air mataku. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi. Aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin pulang ke rumah dan menangis sepuasnya tapi aku takut. Apa yang harus ku katakan kepada keluarga tentang semua ini.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung yang tak asing itu dan aku bertemu dengan sahabat-sahabatku lagi di sana. Mereka menanyakan hal yang sama lagi. Dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Mereka memelukku dan aku tak bisa menahan diriku lagi. Aku menangis dalam pelukkan mereka. Aku menceritakan semuanya kepada mereka. Mereka memperlihatkan kepadaku beberapa lembar kertas putih yang berisi nila-nilai yang telah mereka kirimkan kepada pimpinan fakultas dan namaku ada di kertas itu. Mereka memberikanku semangat untuk tetap kuat dalam menghadapi masalah ini. Aku bahagia punya mereka di dalam hidupku. Aku bisa tersenyum karena mereka. Aku pulang dan tidak berkata apapun kepada keluargaku. Aku takut dan aku tak mau menambah beban mereka lagi.
Aku sangat gelisah dan sedih hari itu. Hari semakin malam dan mereka semua telah berada dalam dunia mimpi, aku terbangun dan berdoa. Aku mengatakan semua kepadaNya, aku tak henti menangis di hadapanNya. Aku memohon pertolonganNya, karena hanya Dia yang bisa menolongku dan hanya Dialah yang bisa mengerti aku. Hatiku terasa sangat damai setelah aku mengucapkan kata,”Amin”. Aku tidur dan menanti hari esok membangunkanku.
Matahari kembali memancarkan cahayanya, suara mamaku membangunkanku. Dia mendekatiku dan bertanya,” so cair?”. Dadaku terasa sesak lagi, air mataku ingin keluar tapi aku menahannya. Aku menjawabnya,”so ba cek mar belum”. Dia beranjak keluar dari kamarku dengan wajah yang penuh kekecewaan. Hatiku terasa sangat sakit melihatnya seperti itu. Air mataku jatuh lagi. Aku merasa sangat tak berguna karena aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Aku menundukkan kepalaku lagi, memejamkan mataku dan melipat tanganku, ku berdoa kepadaNya. Aku meminta kepadaNya tuk selalu memagang tanganku dan jangan pernah membiarkanku sendiri.
Aku memulai perjuanganku di hari yang baru itu. Aku mencoba melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang telah direbut daripadaku. Dengan semangat aku mencoba menghubungi dan bertemu orang-orang yang bisa menolongku. Aku pergi dari satu tempat ke tempat lain. Tapi tak ada secercah cahaya untuk masalahku hari itu. Aku gagal dan aku kembali membuang air mataku. Tapi aku tak bisa terus menangis, aku menghapus air mataku dan melangkahkan kakiku pergi dari tempat itu.
Hari itu adalah hari selasa dan hari itu adalah hariku untuk bekerja. Meskipun dadaku terasa sesak dan tubuhku terasa lemah, tapi aku harus tetap bekerja. Aku berjalan menuju tempat yang dipenuhi anak-anak itu, tempat di mana aku bisa menyalurkan ilmuku dan mendapatkan uang walaupun tidak seberapa. Anak-anak itu bisa membuatku tertawa dan melupakan sejenak masalah-masalahku. “Terima Kasih Tuhan walaupun hari ini aku gagal tapi aku bersyukur aku masih bisa tertawa hari ini, dan kumohon jika Engkau berkenan berilah aku keberhasilan di hari esok”, itulah kata-kata yang ucapkan hari itu.
Hari berganti hari dan perjuanganku masih belum berakhir. Aku harus bertemu dengan orang-orang asing yang berkuasa dan meminta mereka untuk membantuku. Jantungku berdebar, kaki,tangan dan mulutku gemetar, setiap kali aku harus bertemu dengan mereka. Aku takut dan gugup tapi aku harus melakukannya. Gedung-gedung yang dulunya asing bagiku kini seakan menjadi akrab denganku dan hampir setiap hari aku harus bertemu dengan dua orang pria itu. Mereka baik dan mereka mau menolongku. Meskipun mungkin mereka jenuh setiap hari bertemu denganku dan mengurusi masalahku yang rumit ini, tapi mereka tetap semangat membantuku dan aku sangat berterima kasih kepada mereka.  Aku mulai bisa melihat secercah cahaya di tengah kegelapan ini.
Aku pulang ke rumah, papa dan mama menyambutku di dalam rumah, ternyata mereka telah mendengar tentang masalah yang sedang kuhadapi dari seorang teman kelasku dan dengan nada yang penuh emosi dan kekecewaan,mereka bertanya kepadaku,” Kiapa ngana sampe bagitu? Nda ja ba kuliah so ngana? Kong bagamaina mo kuliah kalo so model bagini? Ngana tau papa deng mama nda mampu mo se kuliah pa ngana, ngana kuliah gara-gara ini beasiswa,kong kiapa bagini? Ngana so tau torang pe keadaan keluarga sekarang bagaimana kong kiapa musti bagini?”. Hatiku terasa sakit mendengarkan perkataan-perkataan itu, tapi aku mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada mereka. Tapi karena kemarahan, mereka tak bisa mengerti. Mereka hanya berkata,” pokoknya ngana musti urus itu samua, kalo nda nannti torang tu pigi, kalo perlu torang tuntut pa dorang”. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, semuanya terasa sangat berat dan melelahkan. Aku ingin sekali berteriak saat itu. Aku tak bisa menahan semuanya lagi, aku berpikir untuk menyerah tapi aku tak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Aku butuh pelukkan malam itu dan bahu untuk bersandar. Tapi aku benar-benar sendiri, sahabat-sahabatku berada jauh dari aku, kekasih? Aku tak punya hal seperti itu. Aku hanya bisa berdoa dan meminta Tuhan Yesus untuk memelukku malam ini agar aku bisa kuat dan semangat menyambut hari yang baru.
Hari yang baru kembali datang tapi masalahku belum mau berlalu. Kembali aku menemui dua malaikat pria itu. Aku tersenyum kepada mereka dan mereka juga tersenyum kepadaku. “ Terima kasih mau membantuku dan maaf karena telah menyusahkan kalian beberapa hari ini”, itulah kalimat yang ingin aku sampaikan kepada mereka tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakannya. Kami berjuang kembali untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Sedikit demi sedikit akhirnya masalah ini mulai bisa diselesaikan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan dan sangat berterima kasih kepada mereka. Hari- hari yang melelahkanpun kini bisa berlalu, dan aku pun pelan-pelan mulai bisa berdiri. Masalah yang sangat rumit ini akhirnya bisa diselesaikan. Langit yang beberapa waktu mendung kini mulai bercahaya. Aku merasa sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Dia tak pernah meninggalkanku walau sedetik. Hal yang mustahil dibuatNya menjadi mungkin. Terima kasih telah mengirimkan malaikat-malaikatMu untuk membantuku. Terima kasih telah membuat ku menjadi lebih baik. Aku bersyukur dan aku bahagia. Kau sungguh amat teramat sangat luar biasa Tuhan Yesus dan Aku bangga menjadi anakMu.

Jauh



 oleh 
Novinda Frandiani Manangkot

Kelap – kelip lampu natal sama seperti kelap – kelip cahaya hatiku
Cahaya bintang yang begitu terang seperti itulah cahaya dirimu
Kau begitu tinggi sehingga tanganku tak bisa meraihmu
Kau begitu terang sehingga mataku tak bisa melihatmu dengan jelas
Begitu banyak bintang yang mengelilingimu
Begitu banyak bunga- bunga indah di sekitarmu
Apakah kau bisa melihatku?
Kau seperti bunga yang indah
Kau seperti pohon beringin yang begitu teduh
Kau seperti madu dan begitu banyak lebah yang menjagamu
Aku hanya bisa melihatmu
Dan diam-diam menyukaimu
Ku coba menaiki tangga untuk pergi ke tempatmu
Tapi semakin jauh aku melangkah
Semakin jauh kau berada
Bagaikan langit dan bumi
Ya, kau terlalu jauh….
Status,kekayaan,dan kedudukan
Aku tak pantas tuk berada disampingmu
Terima Kasih telah menjadi pohon yang mau mendengarkan segala keluh kesahku
Terima Kasih mau menolongku,
Dan memberikanku perlindungan walau sesaat…
Teruslah menjadi bintang yang terang
Agar walaupun jauh aku tetap bisa melihatmu…