oleh
Novinda Frandiani Manangkot
Matahari mulai meredupkan cahayanya hari itu. Dia ingin
segera kembali ke tempat tidurnya. Dia lelah menyinari dunia yang begitu sibuk
ini yang tak pernah menyapanya. Kegelapan pun mulai menyerang dunia ini, tapi
aku dan sahabatku masih melangkahkan kaki kami. Kegelisahan hati yang
mengantarkan kami saat itu untuk pergi ke sebuah mesin uang kecil di kantor
yang asing itu. Kami memasukkan kartu segi empat itu ke dalamnya dengan harapan
uanglah yang akan kami dapatkan. Kami bukan orang munafik. Kami sangat membutuhkan
uang. Tapi kartu segi empat itu keluar lagi dan mesin kecil itu berkata,” Maaf
saldo anda tidak cukup”. Kami menarik kartu segi empat itu dari mesin uang itu.
Kami kecewa, tapi tak putus asa. Kami mencoba pergi ke tempat asing lain di
gedung besar lainnya. Kami bertemu dengan dua pria yang menyambut kami dengan
ramah. Kami mengatakan segala keluh kesah kami kepada mereka dan dengan
tenang mereka mendengarkan kami. Salah
seorang dari pria itu membuka computer hitam di sampingnya dengan maksud untuk
mengecek apakah nama kami masih terdaftar dalam Surat Keputusan itu. Aku
tiba-tiba merasa gugup dan takut saat itu. Dan apa yang kutakutkan ternyata
itulah yang terjadi. Namaku tidak terdaftar lagi di surat itu. Jantungku
berdebar sangat kencang, dan aku bertanya kepada mereka kenapa namaku tidak ada
dalam surat itu? Pria itu menjawab,”
dari data yang torang da dapa ngana pe nama da tulis tidak aktif”. Dengan
spontan aku pun membantah perkataan pria itu,”Nyanda kak, kita masih aktif
sampe sekarang”. Dia menjawabku lagi, “ torang trima data bagitu jadi torang
input bagitu, co tanya pa ngana pe fakultas”.
Dengan pikiran yang buyar dan hati yang sedih aku pun
beranjak dari tempat itu dan berlari menuju gedung tiga lantai itu. Aku mencari
pertolongan di gedung itu, tapi hanya ruangan kosong yang kutemui di tempat
itu. Dadaku terasa sangat sesak ketika ku menuruni tangga-tangga itu. Aku
berusaha menguatkan diriku sendiri dan aku tak hentinya mengucapkan kalimat
ini,” Dalam Nama Tuhan Yesus”. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan saat itu.
Aku terus berjalan menuju sebuah gedung berwarna putih dan biru, gedung yang
selalu aku jumpai setiap hari. Di depan gedung itu dua sahabatku telah
menungguku. Mereka memanggilku dan bertanya,” Kiapa ngana? Kiapa sampe bagitu?”.
Aku diam karena aku tak sanggup menjawab pertanyaan mereka. Mereka memelukku
dengan penuh kehangatan dan tanpa sadar aku menangis dalam pelukkan mereka.
Hatiku terasa sangat sakit dan air mataku tak mau berhenti mengalir. Aku
mencoba menahannya tapi aku tak bisa. Mereka tetap memelukku, mereka mencoba
menenangkanku dan menghapus air mataku. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi.
Aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin pulang ke rumah
dan menangis sepuasnya tapi aku takut. Apa yang harus ku katakan kepada
keluarga tentang semua ini.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung yang tak asing itu
dan aku bertemu dengan sahabat-sahabatku lagi di sana. Mereka menanyakan hal yang sama
lagi. Dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Mereka memelukku dan aku tak
bisa menahan diriku lagi. Aku menangis dalam pelukkan mereka. Aku menceritakan
semuanya kepada mereka. Mereka memperlihatkan kepadaku beberapa lembar kertas
putih yang berisi nila-nilai yang telah mereka kirimkan kepada pimpinan fakultas
dan namaku ada di kertas itu. Mereka memberikanku semangat untuk tetap kuat
dalam menghadapi masalah ini. Aku bahagia punya mereka di dalam hidupku. Aku
bisa tersenyum karena mereka. Aku pulang dan tidak berkata apapun kepada
keluargaku. Aku takut dan aku tak mau menambah beban mereka lagi.
Aku sangat gelisah dan sedih hari itu. Hari semakin malam
dan mereka semua telah berada dalam dunia mimpi, aku terbangun dan berdoa. Aku
mengatakan semua kepadaNya, aku tak henti menangis di hadapanNya. Aku memohon
pertolonganNya, karena hanya Dia yang bisa menolongku dan hanya Dialah yang
bisa mengerti aku. Hatiku terasa sangat damai setelah aku mengucapkan
kata,”Amin”. Aku tidur dan menanti hari esok membangunkanku.
Matahari kembali memancarkan cahayanya, suara mamaku
membangunkanku. Dia mendekatiku dan bertanya,” so cair?”. Dadaku terasa sesak
lagi, air mataku ingin keluar tapi aku menahannya. Aku menjawabnya,”so ba cek
mar belum”. Dia beranjak keluar dari kamarku dengan wajah yang penuh kekecewaan.
Hatiku terasa sangat sakit melihatnya seperti itu. Air mataku jatuh lagi. Aku
merasa sangat tak berguna karena aku tak bisa melakukan apa-apa untuk
membantunya. Aku menundukkan kepalaku lagi, memejamkan mataku dan melipat
tanganku, ku berdoa kepadaNya. Aku meminta kepadaNya tuk selalu memagang
tanganku dan jangan pernah membiarkanku sendiri.
Aku memulai perjuanganku di hari yang baru itu. Aku mencoba
melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang telah
direbut daripadaku. Dengan semangat aku mencoba menghubungi dan bertemu
orang-orang yang bisa menolongku. Aku pergi dari satu tempat ke tempat lain.
Tapi tak ada secercah cahaya untuk masalahku hari itu. Aku gagal dan aku
kembali membuang air mataku. Tapi aku tak bisa terus menangis, aku menghapus
air mataku dan melangkahkan kakiku pergi dari tempat itu.
Hari itu adalah hari selasa dan hari itu adalah hariku untuk
bekerja. Meskipun dadaku terasa sesak dan tubuhku terasa lemah, tapi aku harus
tetap bekerja. Aku berjalan menuju tempat yang dipenuhi anak-anak itu, tempat
di mana aku bisa menyalurkan ilmuku dan mendapatkan uang walaupun tidak
seberapa. Anak-anak itu bisa membuatku tertawa dan melupakan sejenak
masalah-masalahku. “Terima Kasih Tuhan walaupun hari ini aku gagal tapi aku
bersyukur aku masih bisa tertawa hari ini, dan kumohon jika Engkau berkenan berilah
aku keberhasilan di hari esok”, itulah kata-kata yang ucapkan hari itu.
Hari berganti hari dan perjuanganku masih belum berakhir.
Aku harus bertemu dengan orang-orang asing yang berkuasa dan meminta mereka
untuk membantuku. Jantungku berdebar, kaki,tangan dan mulutku gemetar, setiap
kali aku harus bertemu dengan mereka. Aku takut dan gugup tapi aku harus
melakukannya. Gedung-gedung yang dulunya asing bagiku kini seakan menjadi akrab
denganku dan hampir setiap hari aku harus bertemu dengan dua orang pria itu. Mereka baik dan mereka mau menolongku. Meskipun mungkin mereka jenuh
setiap hari bertemu denganku dan mengurusi masalahku yang rumit ini, tapi
mereka tetap semangat membantuku dan aku sangat berterima kasih kepada
mereka. Aku mulai bisa melihat secercah
cahaya di tengah kegelapan ini.
Aku pulang ke rumah, papa dan mama menyambutku di dalam
rumah, ternyata mereka telah mendengar tentang masalah yang sedang kuhadapi
dari seorang teman kelasku dan dengan nada yang penuh emosi dan kekecewaan,mereka
bertanya kepadaku,” Kiapa ngana sampe bagitu? Nda ja ba kuliah so ngana? Kong
bagamaina mo kuliah kalo so model bagini? Ngana tau papa deng mama nda mampu mo
se kuliah pa ngana, ngana kuliah gara-gara ini beasiswa,kong kiapa bagini?
Ngana so tau torang pe keadaan keluarga sekarang bagaimana kong kiapa musti
bagini?”. Hatiku terasa sakit mendengarkan perkataan-perkataan itu, tapi aku
mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada mereka. Tapi karena kemarahan, mereka
tak bisa mengerti. Mereka hanya berkata,” pokoknya ngana musti urus itu samua,
kalo nda nannti torang tu pigi, kalo perlu torang tuntut pa dorang”. Aku
melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, semuanya terasa sangat berat dan
melelahkan. Aku ingin sekali berteriak saat itu. Aku tak bisa menahan semuanya
lagi, aku berpikir untuk menyerah tapi aku tak mempunyai keberanian untuk
melakukannya. Aku butuh pelukkan malam itu dan bahu untuk bersandar. Tapi aku
benar-benar sendiri, sahabat-sahabatku berada jauh dari aku, kekasih? Aku tak
punya hal seperti itu. Aku hanya bisa berdoa dan meminta Tuhan Yesus untuk memelukku
malam ini agar aku bisa kuat dan semangat menyambut hari yang baru.
Hari yang baru kembali datang tapi masalahku belum mau
berlalu. Kembali aku menemui dua malaikat pria itu. Aku tersenyum kepada mereka
dan mereka juga tersenyum kepadaku. “ Terima kasih mau membantuku dan maaf
karena telah menyusahkan kalian beberapa hari ini”, itulah kalimat yang ingin
aku sampaikan kepada mereka tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakannya. Kami
berjuang kembali untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Sedikit demi sedikit
akhirnya masalah ini mulai bisa diselesaikan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan
dan sangat berterima kasih kepada mereka. Hari- hari yang melelahkanpun kini
bisa berlalu, dan aku pun pelan-pelan mulai bisa berdiri. Masalah yang sangat
rumit ini akhirnya bisa diselesaikan. Langit yang beberapa waktu mendung kini
mulai bercahaya. Aku merasa sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Dia tak
pernah meninggalkanku walau sedetik. Hal yang mustahil dibuatNya menjadi
mungkin. Terima kasih telah mengirimkan malaikat-malaikatMu untuk membantuku. Terima
kasih telah membuat ku menjadi lebih baik. Aku bersyukur dan aku bahagia. Kau
sungguh amat teramat sangat luar biasa Tuhan Yesus dan Aku bangga menjadi
anakMu.